Ulama dan Pendidikan Pesantren

Oleh : Muhammad Arif, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga

Oleh : Muhammad Arif, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga

Sulengka.net –Perkembangan Islam di Indonesia telah memberi gambaran menarik tentang sebuah keunikan pengalaman, yang tidak kurang dramatismnya daripada even-even yang tengah berlangsung di Timur Tengah, dan tidak kurang spektakuler pengaruhnya untuk masa sekarang dan masa depan Islam itu sendiri, sekalipun sejauh ini perkembangan tersebut belum memperoleh perhatian yang cukup.

Akar-akar ajaran Islam dilacak dari masa paling awal lahirnya Islam itu sendiri dengan disertai pemahaman konseptual. Ciri-cirinya ditandai dengan bentuk informalitas yang praktik pendidikan tersebut telah berlangsung dimana-mana. Al-Qur’an dan Hadits menjadi kurikulum yang paling utama dan mampu memberi inspirasi.

Kemajuan ilmu keagamaan dalam Islam merupakan tanggapan terhadap tuntutan religius dan kultural pada waktu itu, yakni selama kurun empat abad pertama munculnya Islam, agama secara efektif berhasil menanamkan keyakinan dan memberikan inspirasi kepada manusia-manusia bijak terpelajar dalam dunia Islam.

Hasil dari jenis pendidikan semacam ini adalah bahwa transmisi ilmu pengetahuan lebih menekankan pada popularitas dan keahlian guru daripada institusi pendidikan formal dan menuntut peran yang sangat  aktif dari siswa. Karena itu penghargaan khusus kepada para guru dan melakukan pengembaraan (rihlah) dalam rangka menuntut ilmu hingga ke negeri-negeri yang jauh dapat dipahami dalam konteks ini.

Abdurrahman Mas’ud, (Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi, hal. 29-44) mengungkapkan bahwa tidak dapat dipungkiri praktik tersebut jelas memiliki suatu landasan dan justifikasi keagamaan yang sangat kuat. Di kalangan Muslim, Muhammad SAW dikenal sebagai model paripurna dalam kaitannya dengan seorang pendidik.

Muhammad SAW, telah mengedepankan keteladanan dalam beberapa hal, termasuk ketika sebagai pendidik beliau tidak membedakan antara kaum laki dan perempuan, bahwa keduanya diharuskan memperoleh ilmu.

Muhammad SAW telah mampu memberdayakan serta membebaskan kaum perempuan melalui pendidikan yang tidak diskriminatif. Selain itu, Beliau juga telah mengangkat kemiskinan melawan para konglomerat yang menindas dengan menekankan tanggung jawab si kaya serta menyuarakan hak-hak si miskin. 

Kaum yang tertindas yakni kaum perempuan tua dan yatim piatu menjadi target grup pertama yang dibebaskan. Cara inilah yang ditempuh sehingga Agama menjadi ruh penting untuk membebaskan manusia dari segala belenggu penindasan, baik yang bersifat materiil maupun imateriil.

Hanya melalui tangan pendidik yang arif, penyabar, penyayang, teladan religius, seperti Muhammad saw. maka tujuan pendidikan Islam yang ideal dapat tercapai.

Penulis melihat bahwa model awal di Mandar yang dijadikan uswatun hasanah ialah para Nagguru (ulama). Mereka telah berhasil mengombinasikan aspek-aspek sekuler dan spritiual dalam memperkenalkan Islam pada masyarakat.

Sejarah pengaruh Nangguru di Mandar tidak dapat dipisahkan dari asal-usul pesantren yang menerapkan konsep modeling. Nangguru dalam menyampaikan misinya yang diyakini sebagai penerus para Nabi sedemikian terlibat secara fisik dalam peran sosial, untuk memperkenalkan, menjelaskan, dan memecahkan problem-problem masyarakat, juga untuk memberikan contoh ideal dan religius kemasyarakatan.

Sejalan dengan prinsip Nangguru dalam menjalankan sunnah dan menciptakan model, mereka diyakini menjadi pelopor dalam hal penerapan syari’at dan menciptakan sebuah standar model. 

Upaya pendidikan yang telah ditempuh oleh para Nangguru merupakan ekspresi Islam Kultural. Adapun pendidikan Islam atau transmisi Islam yang mereka pelopori merupakan perjuangan brilian yang diimplementasikan dengan cara sederhana, yaitu menunjukkan jalan dan alternatif baru yang tidak mengusik tradisi dan kebiasaan lokal serta mudah ditangkap oleh orang awam karena pendekatan-pendekatan para Nangguru yang konkret realistis dan menyatu dengan kehidupan masyarakat.

Pendekatan dan kebijakan Nangguru tersebut agaknya terlembaga dalam satu esensi budaya pesantren dengan kesinambungan ideologis dan kesejarahannya. Kesinambungan ini tercermin dalam hubungan filosofis dan keagamaan antara taqlid dan modeling bagi masyarakat santri. Melalui konsep modeling keagungan Muhammad SAW. serta kharisma Nangguru yang dipersonifikasikan oleh para auliya’ dan kiai telah terjunjung tinggi dari masa ke masa.

Pengaruh kuat Nangguru dapat dipahami karena kesuksesan mereka yang luar biasa dalam mempertahankan pendidikan yang Islami secara damai dan rekonsiliasinya dengan nilai dan kebiasaan lokal. Pendekatan Nangguru secara berkesinambungan dilanjutkan melalui institusionalisasi pesantren, kesalehan sebagai jalan hidup santri, pemahaman yang jelas terhadap budaya asli.

Annangguru dalam dimensi sosio-religius selalu berkembang dalam masyarakat. Kemasyhuran mereka sebagaimana para pemimpin keagamaan yang berpengaruh dilanjutkan melalui keutamaan ulama di mata para santri selama berabad-abad.

Komunitas pesantren yang berorientasi Syafi’i dan Asy’ari pada umumnya di Mandar terbukti berada di front terdepan dalam memerangi segala macam hal. Aksi perlawanan mereka juga memiliki dimensi yang lebih luas, yang mencakup komponen ideologis, kultural, pendidikan, dan institutional.

Salah satu Nangguru atau seorang kiai pergerakan yang sangat berpengaruh di Sulawesi pada umumnya saat ini adalah AG KH. Abd Latif Busyra selaku Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Parappe, beliau merupakan agents of social change menurut penulis, karena dengan peran dan skill kepemimpinannya yang luar biasa, Dengan bekal ilmu pengetahuan yang mantap, baik dalam masyarakat maupun pesantren yang didirikannya, serta kedalaman ilmu pengetahuan keagamaan yang dia peroleh dari para ulama paling disegani di Mandar, khususnya di daerah Campalagian. 

Keterlibatan AG KH. Abd Latif Busyra secara langsung di dunia pesantren menjadikan diri AG KH. Abd Latif Busyra sebagai tokoh ampuh yang paling dihormati dan dikagumi. 

KH. Abd Latif Busyra bukanlah seorang guru dari kelompok tarekat manapun di Mandar. Hal ini menunjukkan bahwa dalam tradisi pesantren guru spiritual yang paling dihormati tidaklah ditentukan oleh status atau kesuksesannya dalam suatu organisasi tarekat, tetapi lebih pada derajat tertinggi spiritual seorang kiai melalui kedalaman ilmu serta kedekatannya kepada Allah sehingga membentuk opini publik yang istimewa di kalangan komunitas pesantren.

Nah dari hal ini penulis memandang dalam tulisan ini bahwa posisi ulama sejatinya harus selalu agents of social change yang dipahami secara luas. Sebagai agen perubahan sosial dan interpreter sejati ajaran Islam, seorang kiai merupakan figur sentral di pesantren yang mengarahkan dunia pesantren dengan supremasi kharismatiknya, konsistensi terhadap prinsip religius yang dengan sempurna diikuti oleh para santri, serta melalui penguasaan ilmu agamanya yang sempurna. Seorang kiai juga dianggap sebagai wakil Tuhan, karenanya dia adalah guru spiritual yang sesungguhnya bagi para santri.

Terkait pula dengan Isi dan substansi ajaran ulama tidak dapat dipisahkan dari tradisi pesantren. Pesantren sebagai lembaga pendidikan menjadi sangat potensial dan memiliki arti yang sangat istimewa. Ide tentang pelestarian budaya atau pemeliharaan kultural yang berkembang dalam komunitas pesantren, merupakan ekspresi dari Islam kultural di mana Nangguru (ulama) sebagai figur utamanya.

Pasang

Comment