Saya Payah Sebagai Pemuda, Sumpah!

ZUL-MAJJAGA

Syamsul Bahri Majjaga

Dalam perjalanan usia dan pengalaman saya, ketika mengambil bagian dalam berbagai acara sosial seperti pemilu, pembangunan masyarakat, pesta kekaryaan, pertemuan pemuda, sejauh ini percakapanku dalam mengisi bagian bagian semacam itu saya berhasil membedakan dua kriteria diriku dan mereka sebagai pemuda.

Pada benak saya dan mereka semacam mengembangkan kecurigaan bahwa apa pun yang mereka lakukan, sambil menjelaskan, mereka pasti akan menyakiti mereka dengan satu atau lain cara. Kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana mungkin saya dan Mereka menampilkan keceriaan yang tak terganggu, ketenangan yang tak henti-hentinya, antusiasme yang tiada akhir dan kebahagiaan sempurna. Situasi semacam bangkitnya insinuasi sentimental antara setiap pemuda. Saling menuding, saling klaim paling benar, hingga berimplikasi percakapan sosial pun tak terarah. Menurutku, Hal ini memukul rata pada semua elemen manusia pemuda Indonesia. Entah itu politisi, birokrasi, pengusaha, masyarakat pemuda, juga kaum yang menproklamirkan diri intelektual, atau yang di daulat publik sebagai intelektual.

Apa yang diperlukan untuk menjadi seorang pemuda yang menyediakan jenis cinta yang baik dan menumbuhkan kasih sayang dalam menggarap representasi sosial ?

Secara terbuka, Menyatakan “Saya payah sebagai PEMUDA.”

Pemuda Refresentasi Sosial

Terdapat penubuhan pada jenis ini, Singkatnya adalah mengatakan sebenarnya dan memperlakukan sebenarnya atau dengan metafor “ sumpah pemuda yang menjadi daging”. Ini merupakan satu kesatuan dalam diri manusia. Yang berbahasa yang satu, berbangsa yang satu, bertekat Intelektual yang satu, berpihak pada pembangunan dan pemerataan . Karena itu, pemuda selain harus memiliki dasar-dasar struktur pemikiran ilmiah yang diperoleh dengan bergelut pada pengetahuan dan ilmu, namun yang tak kalah penting darinya adalah memiliki emansipasi, penghayatan. Serta memiliki rasa sensitivitas yang tinggi dalam melihat situasi sosial bangsa.

Dengan penghayatan, emansipasi serta sensitivitas yang tinggi maka nilai dan norma sosial telah menjadi bagian dari dunia di luar dirinya. Pemuda representative, secara konsep, setidaknya masuk dalam variabel ini. Konkrit dari pemuda representatif adalah terlibat diri dengan menjadi simpul dari publik. Menggerakkan pikiran dan tekad dengan saling terkonek satu sama lain.

Pemuda representatif bukan hanya keluar masuk kekuasaan, naik turun mimbar orasi di jalan raya sebab ini beresiko untuk terjungkal dalam pintu saat masuk dan keluar atau saat naik atau turun. Sebab pandangan seperti ini yang membentuk polarisasi pemuda adalah yang memiliki akses kekuasaan atau mimbar orasi dan itu hanya dimiliki oleh sekelompok orang. Padahal, pemuda dalam kehadiran representatifnya hadir bersama segala otoritas sosial sebagai intelektual dengan kekuatan gerakan hegemoniknya.

Pemuda Proksi Elit

Menjadi proksi elite pada tubuh pemuda kita, tidak terlepas dari hasrat (desire) yang memproteksi intelektual itu sendiri. Sehingga tidak salah jika ada sebagian yang menyatakan diri pemuda dan juga melalui polarisasi public, cendrung jatuh pada dimensi ini. Dan juga, ada yang berusaha menjadi pemuda untuk menjadi bagian dari elite negara itu sendiri.

Menjadi pemuda dengan kata lain sebagai jalan untuk menjadi elite.

Persis pada titik ini, elite kita di Indonesia menawarkan hasrat lebih bagi pemuda. Sehingga hal ini terjadi seperti yang terpapar saat ini, pemuda menjadi intelektual selebritis bukan karena kompetensi tetapi juga basis material. Kalau terkenal maka sebagai pemuda bisa menawarkan konpensasi lebih tinggi. Kesannya, saat ini pemuda kita, demi mencapai hasratnya, mengabaikan nilai-nilai dari intelektualnya sendiri untuk tidak berpihak pada kepentingan publik.

Walaupun lewat argumentasi memberdayakan, saat ini pemuda dengan akses langsung ke proses pengambilan keputusan memang penting penting, tapi faktanya hal tersebut tidak cukup untuk menghasilkan hasil kebijakan yang baik, pemuda masih cenderung gagap menghadapi rasionalitas kekuasaan dan elit bekerja dengan cerdas. Akhirnya elite membangun polarisasi pada pemuda hingga pada tahap untuk membajak intelektual. Tubuh yang jinak karena sudah dijinakkan oleh elite negara dengan tawaran hasrat melalui posisi jabatan lalu mengesampingkan gerakan intelektual itu sendiri. Sampai di sini, intelektual menjadi proksi dari kekuasaan negara itu sendiri.

Ia menjadi subjek. Kriteria ini memang telah menempatkan posisi subjektivitas dalam diri pemuda, tidak ada lagi suara yang satu, bahasa yang satu dan penghayatan terhadap situasi sosial masyarakat. Dengan kata lain perjalanan pemua bersama sempat bahasa, tanah air dan rasa yang satu terlihat begitu tertatih, sebab pemuda tidak lagi memiliki dimensi gerakan universal sesama pemuda itu sendiri. Berpikiran beda, berpendat lain, bertindak tak sama se sungutnya tidak jadi masalah. Tetap, jika tidak ada upaya dari mereka untuk melahirkan agenda gerakan kolektif dari pemuda itu sendiri adalah persoalan. Karena situasi dan sikap seperti ini sama sekali tidak akan pernah menawarkan atau menggerakkan satu perubahan yang signifikan. Semoga kita belum sampai pada pase itu.

Yang Bersumpah?

Orang-orang mungkin mengakui, pemuda ” payah sebagai penerjemah sumpah.”

Pada titik tertentu setiap orang dapat mewawancarai saya dan mereka dengan bertanya apakah mereka menganggap diri mereka sebagai pemuda yang hebat. Tanpa pikir panjang kami pasti akan menjawab, “Tentu saja! Tentu saja! ”, Sementara faktanya mengatakan tidak, siapapun yang merasa dirinya pemuda tidak akan pernah menyebut dirinya seorang anak bangsa yang hebat karena bergerak sendiri dengan superioritasnya serta rekam jejak duniawi. Klaim akut dalam diskursus identitas ini menyebabkan gagalnya pemuda menciptakan tatanan sosial yang baik.

Pemuda harus memiliki sikap reflektif dan keterbukaan dalam mengisi krisis di atas. 28 0ktober kemarin, merupakan refleksi ‘ sumpah’ yang harus dipercakapkan dalam perjumpaan dengan yang lain. Karena dengan membicarakan refleksi dari realitas, maka itu sebagai bentuk awal gerakan bertanah air satu terbentuk. benturan perdebatan dan tidak saling terima pendapat berganti kembali dengan berbahasa sosial yang satu. Karena atas nama intelektual semua itu dapat disatukan, karena dahulu, kita pernah bersumpah. ” Dalam tubuh pemuda terdapat kekuasaan untuk mengintervensi jalannya agenda-agenda kebijakan negara yang mengancam retaknya sumpah kita.”

Sumpah pemuda itu intinya kolektivitas. Perjalannyadimulai dari proses framing, melalui perjumpaan rekayasa imajinasi. Semua dalam kesadaran intelektual di rangkai lalu dibangun dengan percakapan dan perjumpaan. Di sinilah nilai dari gerakan intelektual pemuda sebagai titik simpulnya. Inilah representatif dari yang bersumpah, bukan mereka yang berkoar-koar, sendiri-sendiri tanpa pernah terkonek satu sama lain. Bukan juga pemuda yang menyatakan diri melalui rekam jejak tanpa pernah terlibat bersama kalangan intelektual lain.

Dengan demikian, untuk menjadi yang bersumpah, untuk berjumpa dengan yang lain. Dikatakan ‘yang bersumpah’ karena kebermaknaan bagi publik dan peradaban kita. Pemuda!

(Catatan Syamsul B Majjaga setelah mengingat kemarin pernah bersumpah)

Comment