Santri Mentalitas Pebisnis

Oleh: Wahyu Ciptadi Pratama S.Ag.

Dalam rangka memperingati hari santri nasional tanggal 22 Oktober 2021, tentunya peranan santri milenial ini diharapkan menjadi generasi yang mampu merawat keberagaman di tengah masyarakat demi terciptanya cita-cita bangsa yang mengarah kepada perubahan yang tidak hanya bersifat profanistik (dunia) semata, Tetapi perubahan itu mengarah kepada sakralistik atau transendental.

Harapan kita juga adalah perlu tata kelola lembaga pendidikan yang baik untuk mencetak peserta didik dan santri amfibi (mampu hidup di dua alam), Mentalitas santri adalah mentalitas humanis-religius yaitu mental yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mengarah kepada pandangan ilahiah.

Maka santri pada hakikatnya tidak perlu diajari moderasi, sebab moderasi hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak mau belajar kitab kuning dan membaca makna ayat melalui terjemahan, santri hanya perlu diberikan ruang untuk berdialektika dan berkreasi untuk merawat keberagaman, Dan mentalitas itu terbangun di dalam lembaga pendidikan Islam yang mengedepankan nilai-nilai profetik (yang bersumber dari doktrin Islam-Alquran dan Sunnah Nabi), yang di dalamnya ada seorang pemimpin yang mampu mencetak santri yang mandiri, moderat, religius, fleksibel dan tangguh menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat, utamanya di era pandemi ini.

Oleh sebab itu, penulis ingin menyampaikan bahwa pengelolaan pendidikan yang ada di madrasah-madrasah dan pondok pesantren yang ada di kabupaten Bulukumba tidak boleh lepas dari nilai-nilai etis spiritual-religius, bahkan ini menjadi tumpuan dan sumber utama yang harus terus menginspirasi.

Alangkah baiknya jika kita kembali melihat era awal kejayaan Islam dan melihat bagaimana tata kelola kelembagaannya, seperti sistem Madrasah versi Islam awal dengan kurikulum rasionalistiknya mampu bertahan selama 6 Abad, Ia mampu mendominasi pendidikan agama di dunia Islam dan sangat mempengaruhi sistem pendidikan konvensional. Artinya, sistem kelembagaan klasik ini mampu bertahan selama 6 Abad dikarenakan oleh kekuatan spiritual-religius yang melatarinya.

Namun kadang dengan hasrat yang besar, sebagian masyarakat dan praktisi pendidikan yang menjadi alumni dari pondok pesantren ketika kembali ke tanah kelahirannya untuk mewujudkan tujuan tersebut, hanya terdorong karena motif dakwah semata.

Perlu diakui bahwa motif dakwah ini memang digerakkan oleh nilai-nilai spiritual-religius, namun cenderung tindakannya senantiasa menggunakan pendekatan transaksi pahala dan kalkulasi amal serta konsep yang dianut adalah semua untuk Tuhan.

Berdasarkan fenomena tersebut yang mengabaikan kesejahteraan sumber daya manusianya dan output peserta didik, penulis ingin mencoba menuangkan gagasan demi pembenahan menata kembali tata kelola lembaga pendidikan Islam yaitu dengan menggabungkan tata kelola lembaga pendidikan konvensional dan lembaga pendidikan Islam dengan bertumpu pada nilai etis spiritual-religius dengan output peserta didik yang punya mentalitas santri yang humanis-religius.

Lembaga pendidikan bermotif dakwah cenderung tidak ada perencanaan yang matang untuk kepentingan duniawi, hanya diarahkan untuk kepentingan akhirat, Tanggung jawab diserahkan sepenuhnya pada orang-orang yang mau menjalankannya saja sesuai kesadaran etis mereka, Aktualisasi program kadang juga dijalankan asal-asalan sehingga untuk mendapatkan bantuan operasional dari pemerintah kadang tidak terpenuhi, karena pengelola beranggapan yang terpenting itu adalah pahala akhirat tercapai, sehingga kesejahteraan sumber daya manusianya terbengkalai karena konsepnya hanya “ikhlas” yang dimaknai terlalu tekstual.

Lembaga pendidikan konvensional punya perencanaan yang matang untuk hal duniawi namun tidak untuk ukhrawi, Aktualisasi programnya berjalan sesuai prosedur untuk mencapai target tertentu. Kesejahteraan sumber daya manusianya terjamin karena mampu mencetak peserta didik dengan tujuan duniawi dan terpakai di pasar masyarakat. Jika dikawinkan dari dua lembaga pendidikan tersebut perlu kiranya ada perencanaan yang jelas untuk mencapai tujuan duniawi dan ukhrawi.

Mempunyai program yang teraktualisasi untuk kepentingan dunia dan akhirat dan kesejahteraan sumber daya manusianya terpenuhi baik dari aspek ekonominya maupun spiritual.

Jika ini mampu digagas dan diimplementasikan, maka output pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menempati posisi sebagai pegawai di pemerintahan. Tetapi output pendidikan yang baik menurut pemahaman penulis yaitu menempati posisi sebagai pebisnis yang bersandar kepada nilai etis humanis-spiritual di tengah kehidupan sosial dan membuka peluang kerja bagi masyarakat. Bukankah ini bagian dari pemberdayaan sumber daya manusia. Maka mari kita mengelola pendidikan dengan baik, mencetak peserta didik dan santri yang bekerja sebagai pebisnis bukan pegawai.

Comment