Rekonsiliasi Dualisme Cabang PMII Bulukumba, Wahyudi-Sulfikar Asyraf Menyatu

Sulengka.net — Kemelut dualisme Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bulukumba setahun terakhir cukup bergejolak. Pasalnya, dualisme tersebut bertahan hingga dua masa khidmat.

Namun angin segar penyatuan dua cabang PMII di Kabupaten Bulukumba berhembus pasca penyerangan sekretariat PMII di Jalan Husni Thamrin belum lama ini.

Konsolidasi pun dilakukan, terkuak bahwa pelaku penyerangan sekretariat PMII Bulukumba di Jalan Husni Thamrin tersebut merupakan anggota PMII dari cabang PMII yang lain.

Konsolidasi yang dilakukan itu menghasilkan kesepakatan bahwa hanya ada satu Cabang PMII Kabupaten Bulukumba dan Wahyudi sebagai Ketua masa khidmat 2021-2022.

Kepada sulengka.net, Ketua Cabang PMII Kabupaten Bulukumba, Wahyudi mengatakan, pihaknya saat ini menyerahkan secara utuh pada Pengurus Besar (PB) PMII terkait siapa yang bakal di SK-kan.

“Saya sangat berharap setelah melewati dinamika berkepanjangan ini, kita cukup jadikan pelajaran untuk kemaslahatan orang banyak,” kata dia. Jumat, 15 Oktober 2021.

Dia mengajak seluruh kader PMII untuk mengesampingkan ego untuk perkuat persatuan di PMII Bulukumba. Supaya tidak lagi timbul dinamika dualisme di tubuh PMII.

Sementara itu, Sulfikar Asyraf yang merupakan Ketua Cabang PMII mengatakan, dirinya melakukan konsolidasi dengan pengurus cabang yang dipimpin oleh Wahyudi karena tidak ada pilihan lain.

Dia menyebutkan bahwa opsi yang ditempuhnya tersebut adalah langkah terbaik penyelamatan kadernya yang tersandung kasus penganiyaan salah satu kader PMII yang dipimpin oleh Wahyudi saat penyerangan sekretariat.

“Itu semua saya lakukan karena tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan kader PMII yang loyal kepada saya, karena terlapor dengan kasus penganiyaan sesama anggota PMII. Jadi agar proses hukum dihentikan, maka jabatan saya selaku Ketua PMII Bulukumba saya korbankan,” kata dia.

Dia menyebut bahwa posisinya sebagai ketua PMII hanya amanah. “Lalu ketika saya terjebak pada pilihan itu, maka saya siap mengorbankan segalanya demi kader saya, untuk lepas pada proses hukum, walaupun itu ada jabatan yang harus dikorbankan dan bahkan nyawa sekalipun akan menjadi mahar, ketika memang itu di butuhkan demi menjaga ‘Siri’ dalam sebuah lembaga,” tutup dia.

 

Comment