Racikan Kopi Ala NU

Muhammad Arif

Muhammad Arif, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Oleh: Muhammad Arif, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga 

Sulengka.net –Kopi di meja kamar Hasanuddin Latif yang kerap dipanggil Pua mengepulkan uap putih pudar, membumbung perlahan melawan gravitasi. Melayang sebentar di udara, kemudian hilang jauh sebelum menyentuh langit-langit kamar asrama Todilaling (Asrama Putra Mahasiswa Polewali Mandar Yogyakarta).

Aku masih mengira-ngira perihal mengapa laki-laki dalam ruangan kamar tersebut tak kunjung menyentuh cawan kopi di atas meja tersebut. Tak biasanya seperti itu, pada hari-hari sebelumnya dia akan menyesap sesegera mungkin kopi yang telah diracik oleh seorang laki-laki yang bernama yusuf bahkan sebelum yusuf mengaduk dengan rata kopi racikannnya tersebut. Lantas kenapa hari ini manusia dalam kamar tersebut tak sesegera bisa menikmati kopinya?

Di tengah meja, plastik berwarna keruh berisi gula putih yang berbentuk piramid yang ujungnya di ikat dengan karet yang berwarna hujau, tak menyisikan sedikit celah bagi udara dan sendok yang berada di dalam palastik untuk memindahkan kubus-kubus si putih guna memaniskan si hitam. Tidak cawan kopi, tidak plastik yang berisikan gula, tak satupun yang disentuh oleh lelaki yang berada dalam kamar tersebut.

#

Bukan racikan si yusuf yang tak nikmat, tapi lelaki yang berada dalam kamar tersebut disibukkan dengan bacaannya yang bercorak NU. Menurutnya kopi yang nikmat tak lepas dari jasa tangan-tangan terampil yang menanam, roasting, dan mencampur. Ini membutuhkan proses yang sangat panjang. Begitupun dengan NU, yang menanam, meroasting dan mencampurnya tak lepas dari jasa-jasa para alim Ulama.

Berdirinya organisasi NU ini merupakan salah satu fenomena yang luar biasa. Sebab, didirikan oleh orang-orang yang dianggap kolot, tradisi tidak mempunyai kemampuan dan kecerdasan berorganisasi. Organisasi ini sendiri sebenarnya tidak pernah lepas dari tangan dingin seorang kiai yaitu K.H Hasyim Asy’ari.

Satu aspek menarik dari sejarah NU adalah hubungan dan keterlibatannya dalam dunia politik. Ini erat kaitannya dengan posisi para kiai sebagai pemimpin umat di satu sisi, dan dengan kebijakan pemerintah Belanda terhadap Islam di sisi, kebijakan Belanda untuk merongrong ajaran Islam dilihat sebagai masalah serius yang dengan sendirinya mengundang perhatian pemimpin Islam baik dari kalangan NU maupun Muhammaddiyah.

Jurang perbedaan antara keduanya terbukti dapat dikesampingkan ketika kedua organisasi ini berkoalisi membentuk MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) dalam tahun 1937 yang salah satu misinya adalah mengupayakan keseragaman sikap umat Islam dalam menghadapi kebijakan Belanda. 

Paham keagamaan NU juga dikenal dengan paham ahlussunnah wa al-Jama‘ah atau aswaja, aswaja secara bahasa berarti orang-orang atau mayoritas para ‘Ulama atau umat Islam yang mengikuti sunnah Rasul dan para Sahabat atau para ‘Ulama. Seperti itulah kira-kira sepintas sejarah NU.

Lantas bagaimana dengan kondisi NU saat ini?. Bukankah sejak dari dulu organisasi yang salah satu terbesar di Nusantara ini diterjang ombak yang sangat dahsyat?. Lantas bagaimana NU menghadapi berbagai rintangan yang sedemikian bejatnya?. 

Layaknya kopi yang digemari oleh bukan hanya orang tua saja, kopi sudah menjelma jadi bagian hidup semua kalangan. Rasanya yang pahit sekaligus manis mempunyai keikmatan dan makna tersendiri. Seperti itulah NU saat ini keeksisannya dalam segala hal, yang memegang erat prinsip sikap tawasut (tengah-tengah, mengambil jalan tengah atau pertengahan), sikap i‘tidal (tegak lurus, tidak condong ke kanan dan kekiri atau berlaku adil dan tidak berpihak pada yang tidak benar), sikap tasamuh (toleransi, menghormati perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama), sikap tawazun (memiliki arti seimbang, tidak berat sebelah atau tidak berlebihan dalam berhubungan  baik yang bersifat individu, struktur sosial, antara negara dan rakyatnya) dan sikap amar ma‘ruf nahi mungkar (selalu memiliki kepekaan guna mendorong prilaku yang baik, guna bermanfaat bagi kehidupan yang bersama), sehingga NU mudah diterima oleh masyarakat luas, tidak hanya di Indonesia tapi NU diterima oleh berbagai Negara, celoteh salah satu lalaki yang sedang berbaring sambil membuka lembaran buku “Islam Nusantara Jalan Panjang Moderasi beragama di Indonesia” karangan Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar. MA.

Kopi lelaki yang berada dalam kamar kini tak lagi mengepulkan uap putih pekat. Hanya ada kesunyian antara beberapa lelaki dan kopi di atas meja. Raut nestapanya dipantulkan oleh lembaran demi lembaran buku yang bercorak NU.

Bosan memperhatikan mereka yang tak juga menyentuh kopi buatan yusuf, akhirnya aku memutuskan untuk memasukkan kubus-kubus si putih guna memaniskan si hitam. Sembil mengaduk kopi searah jarum jam dengan putaran sebanyak 30 kali yang kuhitung dalam hati, entah mengapa aku seolah tersihir untu kembali mengarahkan pikiran terhdap perkataan si lelaki yang memegang buku karangan Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar. MA. 
Menurutku ada benarnya juga perkataan lelaki itu. NU yang sudah berumur 94 tahun dengan berbagai tantangan yang dilewati sudah tentunya matang dari segala hal, yang mana ibaratnya kopi, NU merupakan pilihan biji kopi terbaik untuk mendapatkan hasil yang baik, Ulama-ulama/kiyai-kiya NU mengarahkan segala kemampuannya dengan maksimal untuk tetap menjaga NU.

Menikmati kopi segelas kopi tak boleh terburu-buru, hirup aromanya dan teguk perlahan, tuturku dalam hati ketika melihat teman dalam kamar meminum kopi tanpa etika dan estetika. NU juga demikian dalam menghadapi berbagai persoalan tidak secara terburu-buru terbukti sikap  Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengimbau pemuka agama di Indonesia untuk tidak terprovokasi isu-isu yang tidak jelas kebenarannya. Menjelang tahun politik, yaitu pilkada serentak tahun 2018 dan pemilu presiden 2019, pihak-pihak tertentu telah memulai menggoreng isu untuk kepentingan politik mereka.“Tahun depan, ada tahun politik, pilkada di mana-mana, 2019 pilpres, goreng-gorengan sangat panas. Dari sekarang sadar ya, jangan terprovokasi,” pintanya pada sarasehan lintas agama bertema Merawat Kebinekaan Menumbuh kembangkan Toleransi Antarumat Beragama dan Menolak Gerakan Intoleran di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (27/9).

“Entah merayakan kebahagiaan yang luar biasa atau duka paling nestapa, kopi tetap teman terbaik, bukan?” kuangkat cawan kopiku kearah depan, lelaki dalam kamar tersenyum seolah membenarkan kalimatku. NU juga demikin, keresahan dan kebingungan kita pada intinya sudah terjawabkan oleh kiyai-kiyai NU, sejatinya tidak ada yang membuat kita buntu akan berbagai hal, namun kita kadang lupa diri dan membuat kita memandang sebelah mata fatwa-fatwa para ulama NU. Wallahu a‘lam.

Comment