Pudarnya Pelajaran Aksara Lontara di Sekolah

Sulengka.net — Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis dan Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada (alm) berasal dari “sulapa eppa wala suji”.

Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat.

Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi). (Sumber: Wikipedia)

Aksara Lontara Bugis

Eksistensi pelajaran aksara lontara di sekolah kini sudah mulai terpinggirkan. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya tenaga pengajar bahasa daerah di Kabupaten Bulukumba. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bulukumba, Akhmad Januaris, sudah lama pihaknya menegeluarkan imbauan untuk pelajaran muatan lokal disekolah.

“Tenaga pendidik untuk bahasa daerah (aksara lontara-red) sangat kurang, karena sudah banyak yang pensiun,” kata dia, Rabu, 11 September 2019.

Saat ini Dinas Pendidikan kesulitan dengan tenaga guru yang bisa mengajarkan bahasa daerah pada siswa. Pihaknya mengupayakan memberikan perhatian pada pelajaran bahasa daerah. “Kunci sebenarnya terletak pada tenaga pengajarnya,” tutup Akhmad Januaris.

Sementara itu, Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Bulukumba, Muhammad Asdar mengakui bahwa sudah tidak banyak siswa yang memahami aksara lontara di sekolahnya.

“Pelajaran Bahasa Daerah (Aksara Lontara) tidak masuk dalam kurikulum, tapi masuk dalam pelajaran tambahan. Siswanya yang belajar Bahasa Daerah saat duduk di kelas IX,” kata dia.

Comment