Petani dan Sedekah Ekologi

Oleh : Suriadi (Kader Muda NU)

Membaca Sedekah
Dalam ajaran Islam, sedekah atau shadaqah merupakan bentuk kegiatan membelanjakan harta atau dalam arti lain menyisihkan harta di jalan Allah. Sedekah juga diartikan pemberian sesuatu kepada yang berhak menerimanya. Umumnya sedekah dimaknai sebagai derma maupun pemberian kepada insan membutuhkan.

“Hari esok hanya untuk mereka yang mempersiapkan hari ini, apa yang kamu tanam maka itu yang kamu tuai”. Peribahasa ini serupa dengan arti sedekah. Sehingga banyak manusia terdorong melaksanakan sedekah berbarengan dengan harapan, pemberian mereka di dunia akan mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha Memberi di semesta berikutnya.

Ketika ditelaah, maka pengertian, makna, dan arti sedekah di atas, berasal dari pemahaman teologi sedekah itu sendiri. Bahwa bentuk teologinya adalah seputar urusan ketuhanan, atau kata lainnya hanya berkutat pada relasi manusia dengan Tuhannya. Sehingga sedekah yang difahami merupakan sedekah dalam bentuk material, seperti bahan pangan, sandang dan uang pada umumnya.

Sudah barang tentu, ketika teologi ini tidak diberikan wajah baru, maka ruang lingkup sedekah akan terlihat kerdil. Ini berimplikasi pada gejala sosial masyarakat, mereka akan senantiasa memahami bahwa sedekah hanyalah sebatas memberi sesuatu (baca:barang) kepada manusia lainnya.

Meninjau Teologi Sedekah
Realitas identitas Islam sebagai agama komprehensif yang di dalamnya mengatur keseluruhan hidup makhluk di muka bumi ini, sudah selayaknya teologi sedekah juga diberikan wilayah baru agar sesuai dengan realitas Islam tersebut. Hemat penulis, sedekah perlu ditinjau menggunakan kacamata teologi lingkungan atau kata lainnya teologi ekologi. Hal serupa diungkapkan Clinton Bennet (2005) pada tulisannya yang berjudul Muslims and Modernity, ia menjelaskan bahwa Islam berhubungan dengan seluruh pengetahuan. Entah itu perihal etika, perlindungan lingkungan dan proteksinya, wajah Islam akan selalu tampil memberikan jawabannya.

Menurut Tantan Hermansyah (2003) dalam tesisnya yang berjudul  Hubungan dan Refleksi Teologi Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat, teologi lingkungan (baca:ekologi) dapat difahami sebagai bentuk keterikatan hubungan Sang Pencipta, manusia, dan lingkungan kita, serta harmonisasi seluruh makhluk yang saling butuh-membutuhkan untuk kehidupannya.

Dari bentuk teologi ekologi tersebut, ketika dibawa ke wilayah sedekah, akan kita temukan suatu bentuk sedekah dalam konteks lingkungan. Barang sedekahnya berupa hal yang sifatnya abstrak (immaterial), ia berkaitan dengan lingkungan alam sekitar dan sangat berefek besar pada keberlangsungan hidup seluruh entitas kehidupan di muka bumi ini.

Petani dan Sedekah Ekologi
Petani adalah mereka yang bergerak di bidang pertanian. Terik matahari panas bagi kita, penting bagi mereka, pun hujan terkadang menghambat perjalanan kita namun rahmat untuk mereka, sungguh seimbang interaksi mereka dengan alam. Utamanya di waktu mereka mengelola tanah dengan tujuan menumbuhkan dan memelihara tanaman seperti padi, bunga, buah dan lain-lainnya. Sebagai pokok penopang kehidupan mereka termasuk kita.

Penulis memahami, ketika sedekah petani di telaah menggunakan kacamata teologi lingkungan, petani pada hakekatnya adalah orang yang senantiasa bersedekah. Mereka merupakan aktor sedekah lingkungan meskipun jarang diperhatikan. Konsepsi sedekah petani yang dimaksud dalam kacamata teologi lingkungan adalah berupa sedekah yang digulirkan dalam bentuk sedekah oksigen.

Perumpamaannya begini, setiap sinar mentari yang jatuh ke bumi, cahayanya mengenai dedaunan tanaman, daun-daun tanaman kemudian membutuhkan sinar matahari sebagai proses fotosintesisnya. Dari proses inilah tanaman mendapatkan bahan makanannya yang kemudian diberikan ke seluruh tubuhnya.

Hasil dari fotosintesis tanaman akan mengeluarkan unsur kimia berupa oksigen. Meskipun jumlah oksigen yang dikeluarkan dari sehelai daun tidak diketahui penulis secara pasti. Tapi jumlahnya kemungkinan sangat banyak. Itu baru satu daun, bagaimana jika lebih.

Pada tanaman, ada puluhan hingga ribuan daun bahkan ada yang sulit dihitung jumlahnya. Dari daun sebanyak itu, kita tidak bisa membayangkan berapa banyak jumlah oksigen yang dilepaskan oleh tanaman-tanaman tersebut.

Bila saja petani menanam satu tanaman kemudian berkembang dan tumbuh subur, daunnya banyak. Secara tidak sadar petani telah menghasilkan sumber kehidupan dahsyat di muka bumi ini yakni oksigen. Manusia mana yang tidak membutuhkannya, bahkan makhluk lain bergantung padanya. Sebab, tanpa oksigen sudah pasti manusia dan makhluk lainnya hanya membutuhkan hitungan detik untuk dijemput kematian.

Penulis yakin, mereka (baca:petani) yang menanam tanaman dengan sadar dan ikhlas, setiap kali oksigen itu keluar dari tanaman yang mereka tanam dan mereka rawat dengan tangan mereka, pasti akan menjadi pahala sedekah bagi mereka. Karena petani telah bersedekah satu hal dahsyat kepada kita semua, yakni oksigen. Barang sedekah yang tak nampak, ia abstrak namun begitu fundamen untuk kehidupan seluruh makhluk Tuhan di muka bumi ini.

Petani juga secara tidak langsung telah bersedekah kepada makhluk lain, sesuai kepercayaan penulis bahwa seluruh bentuk tanaman yang ditanam selalu ber-tasbih kepada Allah SWT, bahkan sedekah petani mencakup kebutuhan beberapa hewan melalui daun yang ditanam, sehingga menjadi salah satu sumber pangan dan hidupnya.

Kita percaya, tanaman apapun bentuknya, bukanlah benda mati yang tidak mempunyai fungsi dan tugas di bumi ini. Salah satu tugasnya diyakini sama seperti tugas dan kewajiban manusia, yaitu berzikir kepada Allah Swt. Sehingga dalam tinjauan teologi lingkungan dapat di maknai bahwa, salah satu manfaat utama ketika petani menanam tanaman adalah memperbanyak kesempatan untuk berzikir dan ber-tasbih kepada Allah Swt.

Olehnya itu, value seorang petani tidak ditentukan dari apa yang dia panen, tetapi dari apa yang dia tanam. Pada proses menaman itulah, pundi-pundi sedekah petani senantiasa bergulir di rongga-rongga dada setiap manusia, ia berupa oksigen yang kita hirup. Sungguh mulia para petani, lakon bertani mereka bukan hanya sekedar menumbuhkan tanaman, tetapi telah menjaga kehidupan.

Akhirul Kalam, “Teruslah bersedekah para petani, karena kami orang kaya, orang kurang berada, pejabat maupun karyawan biasa, status apapun yang kami sandang di dunia, hakekatnya kami sangat butuh sedekah itu”. Salam Hormat Penulis untuk Ibu dan ayah, juga kepada para petani dari sabang sampai merauke dari miangas hingga pulau rote.

Wallahul Muwaffieq Ila Aqwamith Tharieq

 

Comment