Peringati Hari Jadi, Pengurus Fatayat NU Bulukumba Berbagi di Panti Asuhan

Sulengka.net — Fatayat NU merupakan salah satu organisasi perempuan bagian dari organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu NU, dan menjadikan NU sebagai induk organisasi.

Dengan demikian Fatayat NU mempunyai prinsip keorganisasian yang sama dengan NU yaitu lebih berpegang teguh kepada doktrin toleransi, akomodatif dan berupaya memperjuangkan tradisi pengamalan dan pemahaman ajaran Islam yang sesuai dengan budaya Indonesia.

Dengan kata lain, NU menetapkan diri sebagai pengawal tradisi dengan mempertahankan faham Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Beragam kegiatan yang dilakukan pengurus Fatayat NU dalam peringatan hari jadinya yang ke-71. Mulai dari diskusi hingga gerakan sosial.

Pengurus Cabang Fatayat NU Kabupaten Bulukumba memilih melakukan anjang sana ke beberapa panti asuhan di Kabupaten Bulukumba.

Ketua Fatayat NU Kabupaten Bulukumba, Haswani Ansar pada Jumat, 23 April 2021 mengatakan, panti asuhan yang dikunjunginya yakni, Panti Asuhan YPPI,
Panti Asuhan Ihya’un Nufus dan RTQ Imaman Ar-Rasyid. Bantuan yang disalurkan pada Panti Asuhan tersebut yakni beras dan mie instan.

“Semoga berkah dari kegiatan ini, menambah spirit bagi Fatayat untuk berkhidmat di masyarakat dan bisa menjadi asbab Fatayat NU bisa lebih jaya di masa yang akan datang khususnya di Bulukumba,” kata dia.

Sekadar diketahui, Fatayat NU berdiri secara resmi, melalui Surat Keputusan PBNU No. 574/U/Peb, tertanggal 26 Robi’ut Tsani 1369/14 Februari 1950.

Sebelum turunnya SK tersebut telah dilakukan rintisan awal melalui keikutsertaan para pemudi NU dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh NU itu sendiri dan ikut berpartisipasi dalam rangka memeriahkan muktamar NU.

Setelah itu, lahirlah istilah Pemudi Muslimat NU, Puteri Muslimat NU bahkan ada yang menyebut Fatayat NU. Pada tahun 1946 Fatayat NU berdiri melalui muktamarnya di Purwokerto dan ikut dalam muktamar tersebut yaitu Murthosiyah (Surabaya), Khuzaimah Mansur (Gresik) dan Aminah (Sidorejo), yang kemudian ketiga orang ini dikenal sebagai tiga serangkai.

Ditandai dengan tiga orang tersebut, secara informal berdiri Fatayat NU di Surabaya, Gresik, Sidorejo meski tanpa ada pengakuan dari PBNU, maka dibentuklah Dewan Pimpinan Fatayat NU dimana tiga serangkai tersebut sebagai pengurusnya.

Comment