Perempuan Dalam Tonggak Peradaban

Oleh: Wilda Izzatul Yazida (Pegiat Literasi)

Perempuan adalah pusat dari kehidupan sebuah keluarga. Semua perempuan memiliki kodrat yang sama, menjadi ibu, menjadi istri, menjadi pondasi berdirinya sebuah keluarga.

Banyak yang mengatakan, baik buruknya sebuah negara bisa dilihat dari kualitas penduduk perempuannya. Kalimat ini tentu memberi pandangan pada  kita seberapa berpengaruhnya kaum perempuan dalam berdirinya sebuah negara. Karena, negara maju berawal dari sumber daya yang baik, berpendidikan dan tentu saja cerdas. Dan sebagai mana yang kita tahu, bahwa pendidikan dasar yang setiap manusia temukan adalah di rumah. Ibu memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam keberhasilan pendidikan dasar ini.

Dari hal diatas dapat di simpulkan bahwa perempuan merupakan tonggak penentu berdirinya sebuah negara, tonggak yang menentukan kokoh atau tidaknya sebuah negara. Lantas, perempuan seperti apa yang sebuah negara butuhkan untuk tetap kokoh? Tentu saja perempuan cerdas yang berpendidikan dan berakhlak mulia. Dari sini, sudah dipastikan bahwa orang-orang yang menganggap bahwa kaum perempuan tidak butuh pendidikan yang layak karena hanya akan berakhir di dapur adalah salah. Jelas-jelas disebutkan dalam salah satu hadist kewajiban mencari ilmu yang bunyinya, “mencari ilmu itu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan” (HR Ibnu Abdil Barr).

Jadi tidak ada alasan suatu organisasi pemerintahan melarang gerak kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan setinggi-tingginya. Untuk kasus di Indonesia, berterimakasihlah pada RA Kartini, yang berkatnya, masyarakat Indonesia akhirnya sadar bahwa perempuan juga layak untuk mendapatkan pendidikan selayaknya kaum laki-laki.

Lalu ? Setelah pendidikan yang layak didapatkan oleh kaum perempuan, apa peran perempuan dalam era globalisasi ini?

Sangat banyak. Peran perempuan di era globalisasi ini tidak hanya mencakup aspek pendidikan generasi-generasi penerus bangsa, tapi juga sebagai tameng keluarga. Menjadi perempuan di era globalisasi seperti ini, perempuan tidak boleh lemah. Perempuan harus mandiri, tegar dan cerdas dalam menghadapi pereubahan-perubahan yang era globalisasi ciptakan. Perempuan harus cukup cerdas dalam memilah perubahan mana yang baik bagi dirinya dan keluarga, dan perubahan mana yang tidak sepatutnya dikonsumsi oleh keluarganya. Karena, walau bagaimanapun, perempuan (bersama pasangannya) bertanggung jawab atas kesejahteraan, kebahagiaan dan pembinaan terhadap generasi penerus bangsa ini.

Selain itu, perempuan juga berperan sebagai anggota masyarakat, warga negara dan warga dunia yang juga berperan sebagai penjaga ketentraman dan kedamaian lingkungan serta pembawa perubahan menuju dunia yang lebih baik.

Besarnya peran perempuan di era globalisasi ini sinkron dengan makin eksisnya kaum perempuan diberbagai bidang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya profesi yang dulu kerap dilakukan oleh kaum laki-laki, kini perempuan membuktikan bahwa mereka juga bisa, bahkan tak kalah baik jika diadu kualitasnya. Contohnya, juru parkir, supir bus, montir, bahkan kepala desa dan presiden sekalipun. Hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal seperti, tuntutan ekonomi misalnya. Inilah yang selama ini kita kenal dengan kesetaraan gender.

Kesetaraan gender membuktikan kepada dunia bahwa kaum perempuan bukan kaum yang lemah. Kaum perempuan adalah kaum yang mandiri dan tangguh. Dipihak lain, kesetaraan gender dianggap sebagai jalan

Comment