Pengaruh Lingkungan Terhadap Etika dan Moral

Abdullah, Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

Abdullah, Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar

Oleh: Abdullah, Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Alauddin Makassar.

Seperti disepakati bersama bahwa etika adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh manusia untuk dikatakan baik atau buruk, dengan kata lain aturan ataupun pola-pola dari tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia. Karena adanya etika pergaulan dalam masyarakat/bermasyarakat akan terlihat baik dan buruknya. Sedangkan Moral Adalah pengetahuan atau wawasan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik, buruknya perbuatan dan kelakukan. Moralisasi yaitu uraian “pandangan dan ajaran” tentang perbuatan serta kelakuan yang baik. Demoralisasi yaitu kerusakan moral.

Secara sederhana etika dan moral keduanya memiliki makna yang sama yaitu bermakna apa yang dianggap baik dan buruk suatu perbuatan. Lebih tepatnya etika dan moral diartikan sebagai akhlak dalam bahasa agamanya, dan entah itu akhlak bertindak ataupun akhlak berucap. kemudian disini orang yang berakhlak baik alias mampu mengenali mana yang baik dan buruk sehingga tidak salah dalam bertindak dan bisa menjaga ucapannya tentu akan disegani oleh orang-orang disekitarnya terlebih pada mereka yang menjadi sahabat.

Selanjutnya tidak jauh dari akhlak, dimana hal (akhlak) ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar sehingga dikatakan lingkungan menjadi hal yang bersifat fundamental dalam memengaruhi segala aspek kehidupan seseorang. Sosial, budaya, adat, Gaya bahasa, cara bertindak, bahkan memanusiakan manusia alias memperlakukan sesamanya demikian tidak terlepas dari pengaruh lingkungan masing-masing orang.

#

Terkait masalah lingkungan ini menurut Emil Salim (1976) bahwa lingkungan menurutnya diartikan sebagai segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempat dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. sehingga seperti disebutkan diatas tendensi mengarah pada makna bahwa etika dan moral keduanya merupakan produk pengaruh dari lingkungan dimana seseorang berada.

Orang yang berada di lingkungan pesisir biasanya memiliki gaya intonasi berbicara keras dibandingkan mereka yang berada di lingkungan pedesaan yang bersuara lemah lembut. Ketika orang pesisir bertemu dengan orang pedesaan lalu saling bercakap-cakap itu tak jarang orang pedesaan yang terbiasa dengan suara lemah lembut akan merasa tersinggung bercakap dengan orang pesisir yang bersuara keras. Keduanya tidak ada yang salah sebab karena keduanya punya karakter berbicara berbeda berdasarkan lingkungan masing-masing. namun bila kedua orang tersebut bijak dalam memposisikan diri dalam hal tersebut maka kemudian hal yang tidak mengenakkan hati bisa terelakkan.

Seseorang yang mampu memposisikan Etika dan moral dengan tepat disebut orang arif atau bijaksana. Seringkali orang bijaksana bisa mengukur dengan tepat kapan ia bertindak dan kapan ia berkata, dengan maksud agar lawan bicaranya dan orang disekitar tidak salah dalam menangkap hasil penyimakannya terhadap dirinya ketika berbuat dan berkata-kata.

Penulis teringat kata seorang sahabat dari salah satu kader IPM pernah bertitah dalam sebuah statusnya bahwa banyak orang memiliki niat yang baik namun sedikit orang tidak mempunyai cara untuk menyampaikan niatnya dengan baik. Artinya terkadang ketika seseorang hendak niat memberi nasehat kepada kawannya namun karena pada saat penyampaian nasehat tersebut tidak efektif, biasanya bercakap dengan nada bentakan sehingga pada akhirnya membuat kawan bicaranyapun merasa tidak nyaman.

Disatu sisi mengenai etika dan moral seringkali seseorang menilai dengan mentitik beratkan akhlak pada taraf pendidikan maksudnya semakin tinggi tingkatan pendidikan seseorang maka semakin mantap etika dan moralnya(akhlak). Namun menurut penulis hal demikian adalah omong kosong belaka dan bisa terbantahkan sebab karena jika pendidikan bisa menjamin baiknya etika dan moral maka tidak ada kasus korupsi yang dilakukan oleh mereka yang menduduki bangku jabatan pemerintahan misal DPR. Kasus korupsi ini pertanda ketiadaan etika dan moralnya seorang koruptor. Bila melirik jauh bahwa banyak sekali ditemukan kasus kejahatan yang dilakukan oleh orang bertitel tinggi. Sehingga kesimpulannya dari paragraf ini bahwa pendidikan tidak menjamin etika dan moral yang baik namun kembali pada pengaruh lingkungan sekitar masing-masing termasuk lingkungan pergaulan, intervensi luar dan dalam diri seseorang.

Etika dan moral yang baik sudah barang pasti dibutuhkan dalam regulasi kehidupan ini, keduanya bukan hanya sebagai sarana memanusiakan manusia namun lebih daripada itu yakni sebagai sarana hubungan dengan Allah (Habluminallah). Bayangkan bagaimana bila etika dan moral seseorang rusak maka yakin dan percaya ada banyak ketimpangan yang akan terjadi terlebih ketimpangan kepada manusia dan juga kepada sang pencipta.

Dalam islam sosok figur uswatun hasanah ialah Nabi Muhammad SAW sudah tercatat diutusnya beliau sebagai penyempurna akhlak, jelas dalam haditsnya yang berkualitas sahih, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq (HR Bukhari).

Beliau telah memberikan petunjuk atau contoh bagaimana cara bersikap dengan baik dan contoh memanusiakan manusia dimana hal ini berkhittah pada 3 dasar yaitu keadilan, kesetaraan dan persaudaraan (ukhuwah). Banyak contoh teladan yang di prototipe oleh nabi muhammad SAW seperti ketika memperlakukan orang tua yahudi buta yang kerjanya mengemis di emperan pasar. Setiap kali orang mendekatinya ia tak jarang mengeluarkan ujaran kebencian kepada beliau namun beliau tetap bersikap tenang dan sopan kepada pengemis itu bahkan rela memberikan makanan rutin setiap hari kepadanya. Alangkah indahnya perangai akhlak Nabi Muhammad SAW.

Comment