Pemuda Keren, Bukan Sukanya Hijrah-hijrahan Tapi Sukanya Tarikat-tarikatan

Muhammad Arif

Muhammad Arif, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Oleh : Muhammad Arif Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Sulengka.net— “Mereka yang bertarekat sudah tentu berhijrah, sedangkan mereka yang berhijrah belum pasti bertarekat”. Inilah kalimat yang bisa menggambarkan fenomena sekarang. Antara tarikat dan hijrah sesungguhnya dapat merubah pola kepribadian masing-masing indifidu manusia ke arah yang lebih baik. Tetapi kemudian melihat fenomena sekarang yang mana konsep hijrah sangat disayangkan, karena orang-orang yang katanya berhijrah sungguh tidak memahami konsep hijrah itu sendiri, sehingga ada yang khas dengan pemaknaan hijrah dalam konteks fenomena hijrah yang berkembang di kalangan pemuda dan pemudi muslim saat ini. Yakni penekanan makna hijrah pada aspek eksitensialnya, bukan pada aspek substansialnya.

Bagi kaum perempuan hijrah akan senantiasa dikaitkan dengan perubahan cara berbusana yang lebih islami. Tata cara berbusana yang islami merujuk kepada cara berpakaian seorang muslim atau muslimah yang menutup aurat. Oleh karena itu wacana hijrah bagi perempuan tidak bisa dilepaskan dari seputar penggunaan jilbab, cadar dan busana-busana muslimah lainnya.

Tidak jauh berbeda dengan kaum perempuan, busana juga menjadi perhatian bagi kaum laki-laki. Biasanya fokus perhatiannya pada celana yang digunakan. Dalam menggunakan celana laki-laki dilarang untuk isybal (celana yang panjangnya melebihi mata kaki) karena merupakan wujud dari kesombongan. Selain itu kaum laki-laki juga dianjurkan untuk memanjangkan jenggot dan mencukur kumis sebagai perwujudan dari sunnah rasul.

Perubahan berikutnya yang juga tidak bisa dilepaskan dari wacana seputar hijrah adalah penggunaan istilah-istilah kata yang diambil dari bahasa Arab. Beberapa kata yang sering digunakan adalah “ukhti” untuk menyebut saudara laki-laki, “ana” untuk menyebut aku/saya, “anta/antum” untuk menyebut kamu/kalian “na’am/la” untuk menyatakan iya/tidak dan beberapa istilah tambahan lain seperti fillah dalam kata ukhti fillah dan akhi fillah. Fenomena ini berkembang dikalangan pemuda dan pemudi perkotaan maupun pedesaan  yang mengaku sedang berhijrah.

Terlepas dari segala macam pembelaan yang menyatakan bahwa fakta-fakta di atas merupakan tahapan awal dalam berhijrah, tetap saja hal itu menunjukkan adanya bentuk narsisme atau keinginan untuk diakui. Dalam hal ini telah terjadi pergeseran nilai dalam menjalankan ritus keagamaan dari semua bernilai etis-ideologis menjadi estetis-eksistensialis.

Disadari atau tidak terlalu fokus pada penekanan makna hijrah pada aspek eksistensial memiliki dampak negatif terhadap relasi sosial. Faktanya, kebanyakan orang yang berhijrah, mengalami keretakan hubungan sosial dengan teman atau kawan lamanya yang belum berhijrah. Hal ini dikarenakan konstruksi berfikir hijrah yang menekankan pada aspek eksistensial sebagaimana yang dijelaskan di atas, serta cenderung membuat dikotomi antara “aku yang sudah berhijrah” dan “mereka yang belum berhijrah”. Padahal sejatinya ketika membuka lembaran sejarah, konsep hijrah yang dilakukan Rasulullah dan Sahabat ialah membangun spirit reformasi bukan mengkotak-kotakkan umat Islam yang pada akhirnya klaim antara “aku yang sudah berhijrah dan “mereka yang belum berhijrah itu yang demikian ada dari indifidu yang mengatakan dirinya sudah berhijrah.

Sejatinya spirit reformasi yang dibangun Rasulullah dalam kontek hijrah dapat dibagi menjadi tiga fase. Pertama, reformasi individual (spiritual-moral). Kedua, reformasi sosio-kultural. Ketiga, reformasi struktural. Selama kurang lebih tiga belas tahun, Rasulullah telah mengadakan reformasi individual dalam masyarakat Quraisy. Para sahabatnya yang tersentuh dakwah Rasulullah segera mengadakan hijrah baik secara spiritual ataupun moral. Mereka meninggalkan kekufuran dan kejahiliyahan lalu menggantinya dengan keimanan dan akhlak Islamiyah. Reformasi individual-spiritual-moral ini selanjutnya mendorong terjadinya reformasi sosio-kultural, karena sekelompok manusia yang telah melakukan reformasi individual mau tidak mau akan mereformasi tatanan kehidupan sosialnya.

Dalam peristiwa hijrah, kita melihat bagaimana Rasulullah saw membangun sosio-kultural Islami di Madinah dengan melakukan Muakhat (mempersaudarakan) antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Ketika fase reformasi itu sudah dilakukan oleh sekelompok manusia, maka pasti mereka akan menuntut untuk mengadakan reformasi struktural, sesuai dengan tingkat intelektual dan keimanan mereka.

Oleh karena itu makna hijrah harus dikembalikan pada asalnya. Bahwa hijrah bukan hanya terbatas pada aspek eksistensi saja. Tetapi hijrah harus mampu menembus batas-batas fisik, karena sejatinya hijrah bukan hanya persoalan sudah bercadar atau tidak, hijrah bukan persoalan seberapa besar kerudungmu, seberapa cingkrang celanamu, juga bukan seberapa panjang jenggotmu. Hijrah itu tentang bagaimana kita memperbaiki hubungan kita kepada Allah, kepada manusia dan kepada alam sekitar. Bagaiman kita melakukan muakhat (mempersaudarakan) sesama manusia tanpa melihat dari segi Agama, Ras dan lain sebagainya, sehingga dikotomi antara “aku yang sudah berhijrah” dan “mereka yang belum berhijrah” itu tidak ada lagi.

Mengapa penulis lebih mengutamakan bertarikat?. Ada dua hal yang melatar belakangi mangapa penulis lebih mengutamakan bertarekat dari pada berhijrah. Pertama, hasil pengamatan penulis, penulis tidak pernah mendapatkan orang-orang yang betarekat membuat dikotomi antara “aku yang sudah bertarekat” dan “mereka yang belum bertarekat” dari segi eksistensialisnya. Dikarenakan orang-orang yang bertarekat  selalu menekankan pada pensucian diri dari nafsu dunia. Karena itu, dia memberikan beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi. Adapun beberapa ajaran tersebut adalah taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha dan jujur. dari sekian banyak pengalaman pribadi para sufi tampaknya terdapat beberapa aturan dan cara yang bisa dikategorikan dalam kesepakatan mereka, yaitu; mendalami ilmu yang berkaitan dengan syariah, mengendalikan nafsu untuk menghindari dosa, memperbanyak zikir dan doa tertentu, serta tidak meringankan amaliah-amaliah yang dilakukan.

Kedua, tarikat itu mempunyai mursyid yang jelas sanad kemilmuan juga harus jelas dan mempunyai perencanaan yang jelas pula, tidak hanya sekedar bertarekat. Ahmad Rafiq, S.Ag., M.Ag,. Ph.d pada NGOBAR (Ngopi Bareng Matan UIN Suka) mengungkapakan bahwa bertarikat itu ada dua macam, yakni tarikat yang aktif secara kelembagaan dan tidak aktif secara kelembagaan tapi ranah aplikatif saja. Tetapi kedua-duanya tetap mempunyai perencanaan yang jelas.  

Lebih lanjut Ahmad Rafiq menjelaskan bahwa hijrah sejatinya juga sama, ketika seseorang ingin hijrah, baik hijrahnya dalam bentuk fisik maupun non fisik maka harus mempunyai perencanaan yang matang dan pasti.
Bahwa dalam berjuang, iman dan do‘a saja tidak cukup. Mungkin ada orang yang setiap malam berdo‘a, namun jika tidak dibarengi dengan persiapan, membuat perencanaan dan melaksanakannya, maka akan mengalami kegagalan. Imam Ali berkata: Man asa‘a tadbiran ta‘ajjala tadmiran. (Siapa yang jelek perencanaannya, akan cepat kehancurannya). Makanya terdapat ungkapan, plan your work, and work your plan. Dalam hijrah, Nabi melakukan persiapan dengan perencanaan yang cermat, akurat, matang dengan pembagian tugas yang bagus.

Nyatanya sekang orang yang mengatas namakan dirinya sedang berhijrah tidak mempunyai perencanaan yang matang, sehingga bukan spirit persaudaraan yang ditimbulkan melainkan spirit klaim kebenaran yang muaranya tidak mendatangkan kberislaman harmonis tetapi menimbulkan keberislaman yang menyeramkan. Berbeda dengan orang yang bertarikat, orang yang bertarikat selama ini memberi sesuatu yang baru, yang mana corak keberislaman yang dimuncalkan ialah corak keberisalam yang harmonis, santun dan menghargai perbedaan. Wallahu a‘lam.

Note: Opini yang terbit menjadi tanggungjawab penulis.

Comment