Milenial Harus Paham Pengamalan Pancasila

Sosialisasi 4 Pilar Anggota MPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Drs. H. Andi Muawiyah Ramly, Dipl.M., M.Si di Bulukumba.

Sosialisasi 4 Pilar Anggota MPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Drs. H. Andi Muawiyah Ramly, Dipl.M., M.Si di Bulukumba.

Sulengka.net — Anggota MPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Drs. H. Andi Muawiyah Ramly, Dipl.M., M.Si  menggelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan bertempat di Jalan Matahari Sekretariat DPC PKB Kabupaten Bulukumba Minggu, 9 Februari 2020.

Dalam sosialisasi 4 pilar yang dilakukan 2 kali dalam 1 tahun itu, 2020 ini Bulukumba yang menjadi kunjungan pertama Andi Muawiyah menyampaikan dihadapan tamu undangan seperti Badan otonom NU, Ketua tanfiziah, anggota DPRD Fraksi PKB dan dari berbagai elemen masyarakat.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut Andi Muawiyah menyampaikan pentingnya meningkatkan persatuan dan kesatuan dikalangan generasi muda. Menurutnya, kekuatan besar bangsa hingga mampu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 adalah kekuatan seluruh elemen anak bangsa dalam mempertahankan keutuhan negara kesatuan.

“Oleh karena itu sebagai generasi muda punya tanggung jawab besar, mempertahankan apa yang sudah didapat oleh para pejuang kita, salah satunya melalui pengamalan empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata dia.

#

Menurutnya, empat pilar kebangsaan tersebut menjadi kekuatan dan simbol bersama dan menjadi kunci dalam menguatkan nilai-nilai dasar guna menangkal pengaruh negatif dampak dari globalisasi.

Senator asal SulSel II ini mengakui, jika belakangan Indonesia sedang dirongrong berbagai ancaman polarisasi, liberalisme dan fundamentalisme. Kesemuanya masuk sebagai salah satu akses negatif dari reformasi.

“Fundamentalisme, bisa menghasilkan radikalisme atau terorisme, sedangkan liberalisme dapat memunculkan budaya kebaratbaratan. Di era reformasi semua bergerak bebas, seperti liberalisme ekonomi,” ungkap mantan Komisaris Petrokimia ini.

Dilain sisi beragam konten provokasi sifatnya SARA dan hoaks banyak bermunculan melalui media sosial berpengaruh besar dalam membentuk karakter masyarakat terutama generasi muda. Para peserta juga diingatkan akan bahaya radikalisme yang menurutnya menyimpang dari ajaran agama maupun dasar Negara Pancasila.

“Di dalam Islam, diajarkan untuk tidak melakukan permusuhan kepada semua karena tentu merupakan sikap keliru dan tidak boleh digeneralisir,” katanya.

Menurutnya budaya merupakan pondasi dasar bagi keberadaan bangsa. Oleh karena itu wajib menjaga dan melestarikan budaya Indonesia dan tidak terpengaruh budaya asing yang negatif. Secara teori, negara bangsa terbentuk dengan adanya kontrak politik atau kesepakatan untuk bergabungnya suku-suku bangsa menjadi sebuah daerah teritorial. Dan negara terlahir bukan dalam bentuk produk tetapi berevolusi. Maka dari itu kaum milenial harus paham dan mengamalkan pancasila dan UUD.

Comment