Mencari Sukma Bedug yang Hilang

Oleh: Andi Mahrus Andis (Budayawan)

Menyebut nama bedug, teringat semasih waktu kanak-kanak di masa lampau. Sekira tahun 60-70an, bedug menjadi ikon kerohanian di setiap waktu-waktu salat. Terlebih lagi ketika tiba bulan suci Ramadan, suara bedug sangat dirindukan. Sukma kehidupan kampung, saat itu, tersublimasi lewat kegembiraan rohani menanti pukulan bedug menjelang berbuka puasa.

Bedug di mata saya, ibarat detak jantung yang setia menggetarkan urat nadi kemanusiaan untuk selalu ingin berdialog dengan Sang Maha Pencipta Alam. Bedug telah menjadi kultur ke-Islam-an bagi masyarakat kampung di masa lalu. Masjid tanpa bedug, ibarat musik kehilangan irama. Kehidupan terasa sunyi, hening bagai kehabisan sukma. Tapi itu dulu.

Lantas ke mana bedug itu sekarang ? Sejak awal kedatangan Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah bahari asal Cina- Tiongkok yang beragama Islam di Nusantara ( Abad ke-15 M ), budaya bedug mulai diperkenalkan di seluruh surau di kerajaan Jawa. Pada masa itu, bedug memiliki fungsi sosial sebagai alat mengumpulkan rakyat, di samping fungsinya yang lain sebagai isyarat masuknya waktu salat.

Dalam perjalanan zaman, bedug telah mengalami sinkretisme atau secara akulturasi melebur ke dalam budaya masyarakat nusantara dan menjadi tradisi umat Islam sebagai isyarat penanda waktu-waktu tertentu. Tidak hanya difungsikan untuk menandai masuknya waktu salat, namun lebih dari itu, bedug pun dimanfaatkan untuk membangunkan umat Islam makan sahur dan isyarat saatnya berbuka puasa.

Rupanya fungsi bedug, sejak akhir Abad ke- 20, telah mengalami pergeseran nilai. Kemajuan teknologi memaksa bedug tergerus dari fungsi sosial-religius Islam menjadi sekadar artefak atau situs kultural-Islam peninggalan masa silam.

Reaksi pemikiran modernitas Islam yang gencar di Abad -20an menjadi penyebab utama tergerusnya nilai dan fungsi bedug di kalangan masyarakat muslim di seluruh wilayah Indonesia. Munculnya gerakan pemurnian akidah Islamiyah oleh salah satu ormas, dengan menganggap bahwa menggunakan bedug untuk memanggil orang melaksanakan salat adalah bid’ah, sangat mempengaruhi pikiran umat Islam, terutama bagi pengelola masjid yang kurang pemahaman soal budaya Islam.

Namun demikian, tidak sedikit pula di antara ulama, para kiyai di pesantren-pesantren NU di pulau Jawa, tetap mempertahankan bedug sebagai sarana komunikasi yang bertujuan untuk mengingatkan waktu salat sebelum adzan dikumandangkan. Tokoh ulama dan cendekiawan NU berpendapat bahwa memanfaatkan bedug di masjid untuk mengingatkan masuknya waktu salat adalah tradisi-budaya Islam yang telah dilakukan oleh para leluhur secara turun-temurun.

Beberapa dekade kemudian, fungsi bedug diambil alih oleh produk teknologi modern dalam bentuk kaset mengaji dan lantunan salawat sebelum adzan diperdengarkan. Dan di era sekarang ini pun, budaya memutar kaset mengaji dan salawat sebelum adzan mulai digugat. Kelompok penggugat tsb tampil dengan bahasa yang sama, yaitu pengajian, salawat atau zikir yang dilantunkan mendahului suara adzan adalah bid’ah. Gugatan semacam ini sebenarnya hanyalah sebentuk refleksi atas terjadinya perbedaan pendapat di tataran pemikiran Islam.

Bedug, secara sosial-religius, telah mengalami ketergerusan nilai dan fungsinya. Bedug tinggal sebuah situs masa silam yang pernah mengsublimasi kenikmatan sukma kampung di hati para pencintanya, termasuk saya sendiri di era 60-70an.

Bedug yang disimpan di masjid-masjid sekarang ini bukanlah isyarat atas adanya bid’ah yang bertentangan dengan syariat Agama. Bedug, secara tekstual, hanyalah sebuah ornamen komunikasi sosial yang telah menjadi simbol budaya Islam dan berfungsi mengingatkan kita semua tentang “suatu nilai tradisi” yang pernah ada pada masa kerajaan Islam/kesultanan di Nusantara ini. (*)

Comment