Media Sosial Merenggut Eksistensi

Oleh: Vivi Alfahira (Mahasiswa Prodi Sosiologi Universitas Negeri Makassar)

“Berawal dari Kekaguman, Menjadi Kematian”. Semuanya telah berubah dengan adanya teknologi. Dulu manusia meyakini bisa menguasai dan memanfaatkan alam demi kepentingannya melalui bantuan teknologi yang dia ciptakan. Sekarang, teknologi teknologi ciptaannya lambat laun memiliki eksistensi sendiri, seolah-olah punya kehendak dan kesadaran sendiri yang bisa tawar-menawar dengan kehendak dan kesadaran manusia.

Perkembangan dalam bidang teknologi robotik, nanoteknologi, teknologi komunikasi, rekayasa biologi, kecerdasan buatan dan masih banyak lagi telah menunjukkan bahwa perbedaan antara “buatan” manusia dan “buatan” mesin makin kabur seiring bergantungnya manusia pada mesin-mesin. Bisa dibayangkan betapa bingung dan terhambatnya manusia sekarang jika teknologi digital dan kelistrikan tiba-tiba lenyap, komputer dan satelit sekonyong-konyong mandeg total.

Kini teknologi tak lagi dapat ditempatkan di bawah manusia; teknologi sejajar dengan manusia, bahkan melampauinya. Secara ringkas, tanpa teknologi manusia bukanlah apa-apa. Suasana teknologi yang semakin canggih yang nampaknya memiliki pengaruh yang semakin besar atas kehidupan kita sehari hari. Dibidang kedokteran , pekerjaan , waktu senggang dan dalam politik kota sedang melihat pengaruh komputer, telekomunikasi dan miniaturisasi yang kian lama kian melampui batas.

Manusia telah membayangkan sejak lama bahwa kemampuan untuk mengembangkan dan mengontrol teknologi merupakan salah satu dari karakteristik yang menjelaskan kondisi kita, sesuatu yang menyakini kita atas superioritas kita diatas hewan hewan dan status unik kita didunia. Ironisnya , pengertian superioritas dan keunikan ini sedang ditantang oleh berbagai teknologi yang sedang kita ciptakan , dan ia meerlihatkan keunggulan yang seimbang antara manusia dan mesin yang sedang bergeser secra perlahan.

Ketika tidak ada mesin atau sistem yang masih bisa dikatakan terpengaruh oleh dominasi global secara langsung,jarak antara manusia da mesin menjadi kurang jelaspada saat yang sama sebagaimna menjadi semakin susah membayangkan bagaimna kita saat ini bertahan tanpa bantuan mesin.

Ilmu pengetahuan manusia tidak statis melainkan dinamis, karena manusia mempunyai kemampuan mencerna pengalaman , refleksi, menalar dan meneliti dalam upaya memahami dunianya. Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang itu kemudian menjadikan cikal bakal munculnya teknologi sebagaimna yang dikenal zaman sekarang.

Seperti semisal HP, Internet, dan televise yang biasa disebut dengan media massa. Lahirnya media massa menghadirkan wacana baru bagi manusia, lagi lagi problem keterkaguman. Siapa dari manusia yang tidak tercengang, terpesona penuh kekaguman menyaksikan potensi potensi dunia, dunia sekarang bukan main hebatnya.

Ia seperti memperlihatkan kekuasaanya kepada akal manusia. Sebagai makhluk berakal budi, manusia pasti takkan pernah diam. Ia merenung apa saja yang baru baginya, akan apa saja yang membuatnya penasaran.

Kematian eksistensialis ditengarai oleh dunia maya, mungkin setiap orang dapat memberi jawaban yang berbeda. Akan tetapi , jika kita kembalikepada manusianya, dimana tubuh manusia diciptakan untuk bertemu fisik dan psikis. Pertemuan fisiksemacam itu membuat manusai mengenal secara benar manusia lain, ia masuk dalam konflik realitas, cinta dan berbagai perasaan bahkan membaca emosi orang lain. Sementara dunia maya , tak memungkinkan orang mendapat hal itu, sebab orang merasa dekat dan intim di dunia maya, tapi tak saling sapa dalam dunia nyata.

Demam media sosial sedang melanda. Orang seperti kerajinan berbagai informasi , rasa canda dan tawa, hasrat , ekspresi, dan impian lewat media sosial atau dunia maya. Semuanya berawal dari kekaguman hingga berkelanjutan keaktifan di dalammnya. Tidak dapat disnagkal bahwa manusia sekarang penuh kecemasan. Kecemasan yang ditenggarai oleh ambivalensi perkembanga teknologi yang memvirtualisasi budaya, tempat manusia bereksistensi. Artinya teknologi itu berakibat positif sekaligus negative.

Kekaguman manusai keapada teknologi seperti seperti handphone , internet dll, pertama tama dikarenakan mendatangkan kemudahan bagi hidup manusia. Kemudahan itulah yang dimimpikan manusia modern.
Francis bacon sudah menyadari aspek ini dengan menekankan “knowledge is power” karena pengetahuan itu melahirkan kemudahan manusia.

Dan juga Seperti dikemukakan dalam Konsep Totemisme (Hoed, 1994: 122,128), suatu masyarakat dapat mengindentifikasi diri mereka terhadap benda (totem) dan benda itu akhirnya menjadikan rujukan. Proses identifikasi diri melalui signifikasi, mampu membawa seseorang pada nilai kebendaan tertentu.

Tetapi apa yang diagungkan manusia, yang konon berguna bagi manusia seolah olah dikutuk. Dalam hal ini sekarang kita berada dalam situasi yang mengharukan, karena apa yang dirancang manusia sebagai sarana untuk menguasai dunia, menjadi sukar untuk dikuasai sendiri. Dalam hal ini apa yang diciptkan manusia untuk menguasai dunia sekarang menguasai dunia. Dengan akata lain, manusia sekarang ini bukan lagi ditindas dengan manusia lain, bukan ditindas oleh kelompok lain , tetapi dikuasai oleh sistem yang menguasai semua orang.
Pada akhirnya adanya media sosial membuat manusia kehilangan eksistensi di dunia nyata.

Teknologi itu dirancang untuk manipulasi akal. Jika manusia merasa menjadi lelah , lemah, dan tak berdaya tanpa bantuan perangkat teknologi, itu berarti manusia berada diambang pintu kematian. Memang manusia pantas untuk penasaran dan kagum akan perubahan dengan munculnya teknologi, hanya saja manusia punya akal untuk tidak terlena dalam media sosial. Karena manusia tetaplah yang berkuasa atas semuanya. (*)

Comment