Masyarakat Nusantara Dalam Gambaran Ibnu Khordabeh

Oleh : Muhammad Arif, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga

Oleh : Muhamnad Arif, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga

Sulengka.net — Ibnu Khordabeh merupakan salah satu ahli geografis dan sejarawan terkemuka dan mungkin boleh dikatakan pertama dimasa dinasti Abbasiyah. Karya-karya Ibnu Khordabeh menjadi rujukan penting bagi para sejarawan setelahnya. Siapakah Ibnu Khordabeh, sang penulis delapan kitab penting ini?

Dalam Istoria Arabskoi Geograficheskoi Literatury, Ignatij J. Kratchkovsky mengungkapkan bahwa sebenarnya klaim Ibnu Khordabeh sebagai penulis Arab terawal geografi tidak seratus persen diterima. Mengapa? Sebab beberapa karya lain yang serupa dengan al-Masalik wa al-Mamalik yang telah ditulis sebelumnya.

Namun karya Ibnu Khordabeh tak seperti dengan karya para pendahulunya, sebab karya Ibnu Khordabeh bukan saja terkenal melainkan banyak dirujuk oleh pemikir sebelumnya. Salah satunya ialah Fuat Sezgin dalam Geschicchte des Arabischen Schrifttums memberi informasi bahwa pada awal mula penulisan karya sejarah kota-kota dan bangsa-bangsa dalam sejarah Islam memiliki keterkaitan dengan sejarah penaklukan yang dilakukan mereka, oleh karena itu, menurut Sezgin kerja intelektual ini dilakukan sejak masa awal Islam. Adapun menurut Sezgin mengatakan bahwa ada lima penulis  sejarah kota-kota paling awal pada masa Bani Umayyah yakni Abu Qabil Huyay bin Hani’ al-Ma‘firi al-Mashri, Yazid bin Abu Habib, al-Harits bin Yazid al-Hadrami, Ubaidillah bin Abu Jakfar dan ‘Amar bin al-Harits.

#

Kekecewaan penulis ketika membaca karya Sezgin yang sangat monumental berjudul Geschichte des Arabischen Scgrifttums yang mana merupakan sarjana yang telah menganotasi karya-karya sarjana Islam dari Abad pertama hingga keempat Hijriyah, ialah tidak memberikan ruang atas capaian para ahli geografi Arab. untuk alasan mengapa Sezgin tidak mengulas para penulis sejarah petualangan para sarjana muslim, penulis masih belum menemukan alasannya.

Ibnu Khordabeh bernama lengkap Ibnu Khordabeh ialah Abul Qasim Ubaidillah bin Abdullah Ibnu Khordabeh. Mengenai tahun kelahiran dan wafatnya, para sejarawan berbeda pendapat. Ia diperkirakan lahir pada tahun 205 H atau 211 H di kota Khurasan, ia dari keluarga Persia yang menganut agama Zoroaster. Ayahnya bernama Abdullah mengirimnya ke Baghdad untuk menimba ilmu disana. Alasan ayahnya mengirim ke Baghdad ialah agar supaya Ibnu Khordabeh belajar sains dan seni musik secara intens di hadapan ahli musik ternama seperti Ishaq al-Mashili (w. 850 M).

Adapun profesi sehari-hari Ibnu Khordabeh ialah direktur umum pos dan berita di Baghdad. Kendati profesi inilah yang diduga Ignatij J. Kratchkovsky yang menjadikan diri  Ibnu Khordabeh untuk menulis karya dalam bidang geografi sekaligus memenuhi permintaan Khalifah Abbasiyah.

Adapun karya-karya Ibnu Khordabeh, Ibnu Nadhim dalam al-Fihrisat mencatatnya sekitar delapan karya yang sampai sekarang belum ditemukan, diantaranya ialah 1. Al-Masalik wal Mamalik, 2. Al-Adab wa al-Sima‘ (etika mendengar), 3. Al-Tabikh (kuliner), 4. Al-Lahw wa al-Malahi (canda dan permainan), 5. Al-syarab (minuman), 6. Al-Anwa‘ (astronimu), 7. Al-Nadam wa al-Julasa‘ (sahabat dan teman) dan 8. Kitab Jamharah Ansab al-Fars wa al-Nawafil (geneologi bahasa persia). Dari semua karya Ibnu Khordabeh tersebut hanya Al-Masalik wal Mamalik di dunia Barat dikenal dengan nama Book of routes and Kingdoms dan sebagian dari Al-Lahw wa al-Malahi ditemukan.

Gambaran Ibnu Khordabeh terhadap masyarakat Nusantara.

Helmy Faishal Zaini dalam buku Nasionalisme Kaum Sarungan (hal. 28) mengemukakan bahwa Ibnu Khordabeh sejarawan asal persia, dalam kitab Al-Masalik wal Mamalik memeberikan gambaran dan fakta rinci terkait masyarakat Indonesia/Nusantara zaman dahulu.

Dalam kitab Al-Masalik wal Mamalik Ibnu Khordabeh mengemukakan bahwa masyarakat Nusantara adalah masyarakat yang jujur, santun, terbuka, toleran, kosmopolitan, juga beragam dan multikultural.

Menurut al-Romahurmuzy dalam Ajyibul Hindi, Islam datang ke Nusantara pada Abad ke-7 M. banyak sejarawan mulai menemukan fakta baru bahwa di Barus Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Sudah ada sebuah komunitas Muslim yang melakukan aktifitas perdagangan. Namun skalanya masih kecil, komoditas yang diperdagangkan salah satunya yang paling terkenal kapur barus. 

Pada abad ke-7 M tersebut, Islam tampaknya kurang bisa berkembang di Nusantara. Baru kemudian, setelah datangnya Wali Sanga sekitar abad ke-13 M, Islam bisa menyebar secara masif dalam waktu relatif sangat singkat, yakni 50 tahun. 

Analisis penulis ialah, mengapa Ibnu Khordabeh memberi gambaran pada masyarakat Nusantara sebagai masyarakat yang jujur, santun, terbuka, toleran, kosmopolitan, juga beragam dan multikultural?. Dikarenakan Ibnu Khordabeh melihat masyarakat Indonesia dari segi penyebaran Islam yang dilakukan oleh Wali Sanga.

Ada tiga rahasia penyebaran Islam yang dilakukan oleh Wali Sanga yang menciptakan masyarakat yang jujur, santun, terbuka, toleran, kosmopolitan, juga beragam dan multikultural. 

Pertama, Wali Sanga sangat memahami esensi dakwah yang sesungguhnya. Dakwah yang dilakukan Wali Sanga Bukan semata-mata pemulas bibir atau lips service semata melainkan dengan jalan pendekatan kebudayaan dan bersifat memberi wejangan, dakwah yang mengedepankan laku-lampah dan tindakan.

Kedua, dakwah yang dilakukan Wali Sanga bersifat motodik. Sangat mengerti derajat, tahapan, dan juga gradasi dalam berdakwah. Ketika terjun di masyarakat mula-mulanya Wali Sanga menggunakan hikmah, kemudian nasehat yang baik. Jika dua hal ini gagal baru dilakukan dengan jalur perdebatan. Itupun perdebatan dengan santun dan sopan.

Ketiga, Islam diajarkan sebagai manifestasi dari pesan memberi rahmat kepada seluruh alam. Islam bukan semata-mata hanya rahmat bagi manusia tapi lebih dari itu. Salah satu contoh, Islam tidak hanya memberi rahmat bagi manusia ialah tergambar dalam kitab-kitab fiqhi yang menyebutkan bahwa kita dimakruhkan untuk buang air kecil di tanah yang berlubang. Alasannya? Ialah dikahawatirkan di lubang-lubang tersebut ada hewan yang bersarang. Ini adalah sebuah bukti nyata bahwa Islam itu ramah ekologis dan peduli lingkungan.

Ketiga aspek dakwah yang dilakukan oleh Wali Sanga tercermin dalam dakwah yang dilakukan oleh masyarakat NU. Dimana Ulama-ulama NU dalam berdakwah selalu mengedepankan sikap yang jujur, santun, terbuka, toleran. Dakwah ulama-ulama NU tidak mengajarkan ujaran kebencian, apalagi sampai mengkafirkan.

“Islam itu damai, salam, selamat; insan harmoni. Itu menjadi menarik orang untuk masuk Islam. Oleh karena itu, prinsip moderat dan toleran kita perkuat disamping lembaga persahabatan ormas Islam, yang rata-rata lahir sebelum NKRI. Semuanya punya andil ketika memperjuangkan kemerdekaan,” kata Abdullah Alawi.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengatakan, orang yang beragama itu seharusnya memiliki sifat dan sikap yang baik, berbudaya, dan beradab. Baginya, agama adalah nilai-nilai universal.

“Orang beragama semakin berbudaya, beradab, dan memberikan contoh yang baik,” tuturnya di Gedung PBNU Jakarta, Senin (10/4) malam.

Kiai Said menceritakan, pada zaman Nabi Muhammad ada seorang sahabat yang memaksa anaknya untuk memeluk agama Islam. Bahkan, sahabat tersebut mengancam akan membunuh anaknya tersebut jika tidak masuk Islam. Maka kemudian, turunlah ayat yang menerangkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama  (la ikroha fiddin).

Maka dari itu, Islam adalah agama yang cocok untuk membangun kemanusiaan karena nilai-nilai yang ditawarkannya sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti mengajarkan perdamaian, menolak pemaksaan dan kekerasan dalam beragama, mengedepankan keadilan dan kesejahteraan umat, dan lainnya.

Comment