Kisah dan Cara Dakwah Wali Songo

Hikmah12345

Ilustrasi wayang (Doc. Freefik.com)

Sulengka.net — Wali Songo, menurut Agus Sunyoto, semacam lembaga dakwah yang beranggotakan sembilan tokoh penyebar agama Islam. Mereka berdakwah secara sistematis dan terorganisasi melakukan upaya pengislaman masyarakat Jawa dan pulau-pulau lainnya. Anggota dewan dakwah ini tetap sembilan orang, jadi jika ada salah anggotanya yang meninggal, maka anggota lain masuk kembali.  

Semuanya bergelar sunan, gelar kehormatan dunia sekaligus gelar guru spiritual yang memiliki keanggotaan istimewa. Masing-masing memiliki tugas dalam dakwah Islam melalui berbagai perbaikan sistem nilai dan sistem sosial budaya masyarakat. Kesembilan anggota Wali Songo yang termasyhur adalah Sunan Gresik; Sunan Ampel; Sunan Bonang; Sunan Drajat; Sunan Kudus; Sunan Giri; Sunan Kalijaga; Sunan Muria (Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekontruksi Sejarah yang Disingkirkan, [Jakarta: Transpustaka], 2011, hal. 59).

Secara umum, dapat diumumkan, meski kegiatan dakwah di Nusantara sudah dimulai sejak abad ke-7, tetapi Islam belum diterima masif oleh penduduk pribumi. Itu berlangsung sampai pertengahan abad 15. Baru pada abad ke-15, melewati era dakwah yang dipelopori para sufi yang dikenal sebagai Wali Songo, Islam dengan cepat diserap melalui asimilasi dan sinkretisme budaya Nusantara. Lantas, Bagaimana di tangan para Wali Songo, Islam begitu cepat diterima penduduk Nusantara, khususnya penduduk pulau Jawa? ( Agus Sunyoto , Atlas Wali Songo: Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah, [Jakarta: Iman], 2012, hal. 48).  

Fakta sejarah menunjukkan bahwa kunci gerakan dakwah Wali Songo adalah damai, toleran, dan berpijak pada dua prinsip, yaitu bil-mau’izhatil-hasanah wajadilhum billati hiya ahsan dan prinsip al-muhafazhatu alal-qadimish shalih wal-akhdzu bil-jadidil-ashlah. Terkait, dakwah lengkap dalam nasihat-nasihat yang bijak dan argumen yang kuat, disampaikan secara resmi dan tidak frontal, sambil melestarikan budaya-budaya lokal yang baik dan sudah ada, menyerapnya ke dalam Islam, dan mewarnainya dengan ajaran tauhid.

Dakwah mereka dilakukan dengan harapan persuasif, keteladanan, terima kasih sayang, dan kedermawanan. Jalan dakwah yang dilalui Wali Songo melalui proses asimilasi dan sinkretisme antara Islam yang terbuka, luwes, dan akomodatif dengan agama asli Nusantara, yakni agama Kapitayan sebagai penganut animisme-dinamisme dan pemuja dewa-dewa Hindu-Budha, juga dapat dibicarakan melalui mana yang terkait.

Dakwah dikemas dalam bahasa bijak, diramu dalam pengajaran yang sederhana, dan disesuaikan dengan masyarakat sesuai dengan adat dan kepercayaan lokal (Muhammad Zakki, dkk. Jejak Kanjeng Sunan: Perjuangan Wali Songo, [tanpa kucing. Penyalur: Yayasan Festival Wali Songo], 1999, hal. 116).  

Berbeda perdebatan dakwah Islam yang dilakukan dengan cara-cara intimidasi dan kekerasan, atau cara yang menantang frontal dan kurang strategis seperti tujuh abad sebelum dakwah Wali Songo. Fakta sejarah di India lewat, aktivitas dakwah lewat penaklukan oleh Mahmud Ghazna, Dinasti Khijlia, Tughlaq, Lodia, Aurangzeb, Haidar Ali, dan Tipu Sultan yang dikelilingi oleh negara, tantangan, khitan dibawa, dan tindakan-tindakan kejam, mungkin saja diminta di tengah penduduk pribumi. 
Tidak ada sedikit bukti, setelah kelompok-kelompok penduduk diislamkan lewat perlawanan, pada saat ada peluang mereka kembali memeluk agama semula ( Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo: Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah, [Jakarta: Iman], 2012, hal. 44) .  

Sementara dakwah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh sufi dan para wali dengan dukungan persuasif, keteladanan, terima kasih, kedermawanan, mendukung, menjadikan Islam begitu melekat dalam perikehidupan penduduk India, bahkan dengan sukarela memeluk Islam. Dikabarkan, atas ikhtiar dakwah, Syekh Syaraf bin Malik, Malik bin Dinar, dan Malik bin Habib, Raja Cranongore di Malabar, masuk Islam, dan menerima surat wasiat darinya para sufi, bebas mengembangkan Islam di antara penduduk Malabar.  

Demikianlah strategi dakwah yang dikeluarkan oleh para Wali Songo di pulau Jawa pada abad ke-15 dan 16, dibahas di pantai utara pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Seiring dengan merosot dan berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara, dan aktivitas dakwah Wali Songo, maka Islam jadi lebih mudah didistribusikan ke seantero Jawa, bahkan ke luar Jawa.  

Di bidang pendidikan, asimilasi dilakukan para Wali Songo dalam pengembangan pesantren, pesulukan, peguron yang terbuka bagi seluruh masyarakat. Menurut Zaini Azis, bentuk ini merupakan hasil peralihan dari bentuk sistem pendidikan “biara”, “asrama”, dan “dukuh” yang dipakai para pendeta dan bhiksu untuk menuntut ilmu pengetahuan seperti Gurubakti yang mengatur tata tertib, saling menghargai, dan sujud bakti yang wajib dilakukan para siswa untuk guru ruhani. Ada pula yang menyebut sistem itu sebagai perpindahan dari lembaga pendidikan Syiwa-Budha yang sudah diadaptasi dengan ajaran Islam. Konsep “dukuh” oleh para Wali Songo kemudian disebut pesantren, atau tempat belajar santri. Istilah santri itu sendiri diambil dari istilah sashtri yang belajar kitab suci atau sashtra.Konsep Gurubhakti sendiri oleh Wali Songo disetujui dengan tata krama dan etika pelajar dari kitab Ta’lim Mutaallim karangan Syekh Az-Zarnuji (Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekontruksi Sejarah yang Disingkirkan, [Jakarta: Transpustaka], 2011, hal. 130).  

Media senior juga menjadi sarana dakwah yang cukup efektif untuk Wali Songo. Melalui nyanyian religi, selawatan, pupujian, dan tembang rakyat seperti Kinanthi, Pucung, dan Maskumambang, mereka memasukkan ajaran-ajaran Islam. Begitu pula ditampilkan wayang, yang kala itu digemari masyarakat, dijadikan sarana pemenarik. Namun cerita wayang yang semula bernuansa Hindu-Budha, menggantikan para Wali Songo dengan kisah para nabi dan rasul, tauhid, akhlak, tasawuf, dan ajaran Islam lainnya. Tokoh dan peristiwa dalam wayang hanya sebagai simbol yang diberi tafsiran filosofis sesuai dengan tafsiran ajaran Islam.

Sementara itu, pemanfaatan arsitektur senior juga pernah diterbitkan, Wali Songo, dalam hal ini Sunan Kudus. Contohnya, dua bangunan Menara Kudus dan Masjid Lawang Kembar, yang tak lain merupakan perpaduan kompromistis antara arsitektur Islam dengan arsitektur lokal yang bernuansa Hindu. Perpaduan yang tidak lokal dengan tradisi Islam, sekaligus bukti pembayaran yang tinggi, tampak dalam cerita legendaris Sunan Kudus yang dikenakan warganya memontong hewan sapi yang tak termasuk hewan yang menghargai para penganut Hindu (Solichin Salam, Menara Kudus, [Jakarta: Gema Salam], 1993 , hal. 16).  

Ada pula kisah yang menuturkan di hutan dan lewati jalan menuju petang sepulang dakwahnya, Sunan Kudus mendengarkan suara genta yang bisa dibunyikan dari sekawanan sapi yang sedang berjalan. Sunan Kudus pun lalu menerima kawanan sapi itu hingga tiba di sebuah desa. Merasa sangat berutang budi, Sunan Kudus membatalkan pengulangan, lalu termasuk lebaran saat Idul Adha, dan menggantinya dengan kerbau. Itu pula yang menyebabkan di daerah Kudus hingga sekarang sulit ditemukan makanan olahan daging sapi, karena tidak ada yang menentang larangan Sunan Kudus ( Tri Utomo, Berburu di Hutan Makna: 69 Cerita Budaya dan Karakter Bangsa , [Yogyakarta: Garudhawaca], 2014, hal. 31).  

Selain itu, tradisi-tradisi keagamaan yang telah berkembang di masyarakat tidak ditentang secara frontal oleh para tokoh Wali Songo. Mengijinkan Sunan Kalijaga, adat dan tradisi Jawa tidak langsung ditunda dan dibatalkan, karena menurutnya, akan menyebabkan masyarakat lari dari para ulama. Adat istiadat itu bertentangan dengan warna atau tidak Islam.

Tradisi bancakan atau sesaji yang dipersembahkan di tempat angker, misalnya, diganti dengan kenduri atau tahlilan , yang berisi kiriman doa leluhur dengan menggunakan doa-doa keislaman. Demikian pula tradisi-tardisi lain, seperti mitoniatau tujuh bulanan usia diubah, diubah para Wali Songo dengan acara syukuran, selamatan, dan sedekah makanan untuk fakir miskin, dan masih banyak lagi tradisi lain yang masih diangkat yang diberi warna Islam ( Munawir Abdul Fatah, Tradisi Orang-orang NU,Yogyakarta: LKis, cet. vi., 2008).  

Berkenaan dengan tradisi lama yang dilangsungkan Sunan Kalijaga, dikisahkan dalam sebuah musyawarah di Masjid Agung Demak, Sunan Ampel berhasil diterima, “Apakah di hari yang lalu tidak dikhawatirkan oleh adat istiadat dan upacara lama yang berkaitan dengan Islam, jika hal ini dibiarkan muncul akan jadi tawaran ‘ ah?”  

Sunan Kudus mencoba menjawab Sunan Ampel, “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, adat istiadat lama yang masih bisa disatukan dengan pengajaran tauhid, kita akan memberi warna Islam. Sedang kan adat Dan Kepercayaan lama Yang Jelas menjurus Ke PADA kemusyrikan , kitd akan Tinggal kan . Sebagai contoh , gamelan dan wayang kulit kita dapat menjadi anggota i warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Sambil mengampuni, Sunan Ampel, saya memiliki keyakinan di kemudian hari akan ada orang yang menyempurnakannya. ”  

Sepintas, kedua pendapat itu bertolak-belakang, namun sejatinya mengandung hikmah mengandung dan tujuan yang sama . Sunan Ampel menginginkan Islam Langsung disiarkan Beroperasi murni Dan konsekuen agar Umat TIDAK tergelincir PADA bid’ah Dan syirik. Sementara Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang meminta Islam disebarluaskan, dan cara itu terbukti cepat diterima masyarakat. Berkat usaha asimilasi di serbi Sunan Kalijaga Dan Sunan Kudus, Penduduk Jawa Beroperasi Sukarela bondong-bondong masuk Islam.   Naskah yang berisi diskusi Sunan Ampel dan Sunan Kudus ini ditulis dalam dokumen perpustakaan Leiden di Belanda . Menurut Darul Aqsha, tokoh Wali Songo yang lebih disukai untuk keaslian Islam dipelopori Sunan Ampel dan Sunan Giri, sedangkan yang memilih untuk menggunakan tradisi lama dipelopori Sunan Kalijaga dan Sunan Giri ( Darul Aqsha, KH Mas Mansur 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran, Jakarta : Erlangga, hal. 2 ) .

Sumber: nu.or.id

Comment