Kepala Puskesmas Diduga Jual Masker Bantuan Pemerintah

Sulengka.net — Kepala Puskesmas Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulsel yakni Asrianti diduga memperjual-belikan alat pelindung diri atau APD berupa masker bantuan pemerintah. Hal itu diungkap oleh para tenaga medis di Puskemas Ujung Loe yang mengeluhkan ihwal pembagian masker. Padahal, mereka merupakan garda terdepan dalam penanganan virus corona alias covid-19.

Asisten Apoteker Puskesmas Ujung Loe, Nirwana, menyampaikan bantuan masker sebenarnya cukup banyak dari Dinas Kesehatan Bulukumba. Sepengetahuannya, ada 30 kotak ditambah lagi 50 lembar masker yang diterima pada Maret lalu. Sedangkan pada April, Puskemas Ujung Loe kembali menerima bantuan 20 kotak masker.

Nirwana menyampaikan seluruh bantuan itu tidak bisa dimanfaatkan oleh paramedis. Musababnya, masker sudah tidak ada ketika mereka membutuhkan. Masker itu disinyalir diperjual-belikan oleh pimpinannya kepada para tenaga medis.

“Persediaan APD yang disediakan Dinas Kesehatan (Bulukumba), Alhamdulillah. Namun pengedarannya yang belum bagus berdasarkan fakta. Masker N-94 pada Maret lancar, namur pada akhir bulan tidak kami tahu, bukan kami yang ambil,” keluh Nirwana, Selasa, 5 Mei 2020.

#

Keluhan serupa juga datang dari Koordinitaor Tim Gerak Cepat (TGC) Ujung Loe, Mulyadi. Ia kecewa dengan sikap Asrianti selaku Kepala Puskesmas Ujung Loe. Tidak hanya diduga menjual masker pembagian pemerintah, tapi juga sikapnya sangat arogan dan menganggap enteng covid-19 dengan tidak mengharuskan paramedis memakai masker.

Paramedis di Puskemas Parangloe malah harus membeli masker itu dari Asrianti. Belum lagi berbicara APD lainnya, dimana para perawat dan dokter hanya bisa menggunakan jas hujan agar bisa mawas diri dari penyebaran virus corona dari orang yang mereka periksa.

“Kami di pelayanan UGD (Unit Gawat Darurat) rawat inap yang bersentuhan langsung dengan pasien. Namun tidak ada APD ya terpaksa pakai jas hujan, padahal kami tahu APD telah turun dari Dinas Kesehatan Bulukumba. Kalau kami pertanyakan, Ibu Kapus (kepala puskesmas) bilang, ngapain kamu takut, saya saja tidak takut,” ujar Mulyadi meniru perkataan Asrianti.

Bahkan kata Mulyadi, dokter Puskesmas juga tidak mendapatkan masker N-94 yang merupakan masker bedah standar WHO. Kalau pun diberikan secara gratis, itu disinyalir bekas pakai. “Alhamdulillah dinas kesehatan sudah luar biasa memberikan perlindungan buat kami berupa pemberian masker, meski realisasinya tidak sampai,” tandasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Puskemas Ujung Loe, Asrianti, belum berhasil dikonfirmasi ihwal dugaan memperdagangkan masker bantuan pemerintah.

Ketua Komisi D DPRD Bulukumba, M Bakti, yang dikonfirmasi meminta kinerja Kepala Puskemas Ujung Loe segara dievaluasi. Beberapa laporan para pegawai Puskemas Ujung Loe patut dicek. Mulai dari penyaluran masker yang tidak sampai hingga penyalahgunaan jabatan.

“Sebaiknya Kapus Ujung Loe ini dievaluasi karena sudah cukup jelas kalau jabatanya itu disalahgunakan. Bukanya membantu malah menyulitkan keadaan mengatasi virus ini,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Ujungloe, Bulukumba, Asrianti menggelar konfrensi pers di Media Center kantor Bupati Bulukumba, Selasa, 5 Mei 2020.

Konfrensi Pers tersebut untuk mengklarifikasi adanya tuduhan yang dilakukan oleh anggotanya yaitu menjual masker pembagian Dinas Kesehatan Bulukumba.

Meski telah ada Rapat Dengar Pendapat (RDP) di ruang komisi D, DPRD Bulukumba, Senin, 4 Mei 2020, namun menurut Asrianti tepatnya itu Rapat Dengar Keluhan (RDK) dikarenakan hanya mendengar keluhan saja dari beberapa oknum yang dinilai upaya merusak nama baiknya.

Masker yang telah diserahkan Dinas Kesehatan, menurut Asrianti telah habis dibagi kepada petugas kesehatan di Ujungloe, meski untuk masker N 95 memang terbatas karena stok yang kurang.

Makanya untuk mengurangi penggunaan masker, di Puskesmas Ujungloe membagi Sif-sif kerja, yang setiap petugas kesehatan hanya 3 kali hadir dalam sepekan.

”Sudah kita bagi, kecuali N 95 kita memang tahan-tahan, karena untuk TGC ( Tim Gerak Cepat) Covid-19 Kecamatan Ujungloe, tapi sekarang sudah habis dibagi secara bertahap,” kata Asrianti.

Asrianti mengaku bukan menjual masker, namun memfasilitasi pemerintah desa, agar kebutuhan masker mereka cukup.

”Bidan Desa Manjalling, Ibu Eka minta tolong untuk dibelikan masker yang menggunakan ADD, karena saya kebetulan mau beli kursi roda buat mertua di Makassar. Mereka meminta difasilitasi karena mereka tidak tahu harus beli dimana makanya saya tolong,” kata Asrianti.

Asrianti mengaku hanya membantu. Sebagai mitra kerja di bidang kesehatan, mau tidak mau harus membantu, apalagi untuk kebaikan orang banyak, buat staf desa, bidan desa dan perawatan di Desa Manjalling.

Kini bukan hanya Manjalling saja, Asrianti mengaku juga membantu menfasilitasi Desa Padangloang, Seppang dan Desa Salemba untuk mendapatkan masker yang lebih murah.

”Itu juga kenapa saya yang pegang masker, karena dimintai tolong sama Listina Amin, anak magang Apoteker di Puskesmas Ujungloe, dia tinggal di Bontobahari, saya yang tinggal di kota dimintai tolong untuk mengambil masker di gudang farmasi kota Bulukumb,” jelas Asrianti.

Sesampainya di Puskesmas, Wanita yang mengaku telah mengabdi selama 14 tahun di Puskesmas Ujungloe itu meminta Listina Amin utuk mengambil, namun ditolak, karena takut akan habis akibat diserbu oleh para petugas yang akan mengambil banyak.

”Kata Listina cepat habis kalau dia yang pegang, karena bukan satu, tapi banyak diambil petugas, mereka terlalu parno (Berfikir Aneh-aneh,Takut) dengan penyebaran virus corona, biasa dia doble masker bedahnya, padahal mereka bukan yang menangani dan memeriksa pasien Covid-19,” kata Asrianti.

Beberapa pegawai yang mengeluh dan berusaha merusak nama baiknya itu kata Asrianti, merupakan orang yang terusik akan sikapnya yang ingin Puskesmas semakin baik.

”Mereka telah berada di zona nyaman, tidak mau ada perubahan di Puskesmas, makannya mereka berusaha menjatuhkan saya dengan cara merusak nama baik saya,” kata dia.

Comment