Jelang Pilkada Bulukumba, JMS-HAMAS Perkenalkan Jargon “Baik untuk Bulukumba”

Bakal Calon Bupati (Bacabup) dan Bakal Calon Wakil Bupati (Bacawabup) Bulukumba 2020, Jamaluddin M Syamsir dan H. Andi Mattampawali. AS (JMS-HAMAS)

Bakal Calon Bupati (Bacabup) dan Bakal Calon Wakil Bupati (Bacawabup) Bulukumba 2020, Jamaluddin M Syamsir dan H. Andi Mattampawali. AS (JMS-HAMAS)

Sulengka.net — Pasangan Bakal Calon Bupati (Bacabup) dan Bakal Calon Wakil Bupati (Bacawabup) Bulukumba 2020, Jamaluddin M Syamsir dan H. Andi Mattampawali. AS (JMS-HAMAS) memperkenalkan jargon “Baik untuk Bulukumba”.

Jargon tersebut sudah beredar di akun Facebook dan Grup-grup WhatsApp dengan desain kedua bakal paslon, warna kuning, putih dan hitam.

Sebelumnya, diketahui Jamaluddin M Syamsir mempopulerkan jargon Bulukumba Berjaya. Sementara Andi Mattampawali AS dikenal dengan jargon Bulukumba Berjamaah.

Manajer Pemenangan Inside, Akbar mengatakan bahwa soal tagline dari JMS-HAMAS harus dimaknai secara positif.

#

“Soal tagline ‘Baik untuk Bulukumba’ ataupun ‘Bulukumba Berjaya’, bagi kami welcome welcome saja, selama itu positif dan sejalan dengan visi JMS-HAMAS. Jadi konteksnya bukan mengganti,” kata Akbar, Selasa 14 Juli 2020.

Terpisah, kerabat JMS-HAMAS H. Mulyadi Mursali mengurai ketika seorang figur berjalan dan bekerja untuk satu tujuan, maka mereka akan merekonstruksi satu kalimat yang bisa mencitrakan tujuannya.

“Baik JMS dan HAMAS keduanya memiliki jargon berbeda, karena itu memang cerminan dari cita-citanya. Ketika dipertemukan maka melahirkan sebuah citra baru yang dimiliki keduanya. Dan itu diwajibkan oleh kata ‘Baik’,” jelas Mulyadi, yang juga ketua Partai Gelora Bulukumba.

Menurut Mulyadi, dibalik dari kedua jargon kedua figur ini, memiliki niat dan cita-cita untuk kebaikan Bulukumba di masa depan dan berjaya dihegemoni wilayah regional dan nasional adalah Kebaikan Bulukumba.

“Bagaimana caranya, salah satu falsafah dalam ajaran Agama Islam adalah konsepsi berjamaah” terangnya.

Diketahui, Jamaluddin M Syamsir merupakan Politisi partai Golkar yang memutuskan pulang kampung untuk mengabdi di kabupaten berjuluk Butta Panrita Lopi.

Comment