Dunia Maya Adalah Aku, Dunia Nyata Fatamorgana

Oleh: Wahyu Ciptadi Pratama, S.Ag

Aku adalah manusia yang butuh “bahagia”. Itulah karakter dasar manusia butuh “kebahagiaan”. Tidak ada satupun manusia di permukaan bumi ini yang ingin hidup dalam kubangan “derita”.

Untuk mencapai kebahagiaan, manusia menggunakan fasilitas ilmu yang disediakan oleh Allah SWT, Ilmu merupakan kendaraan manusia dalam mengarungi samudera kehidupan untuk sampai kepada tujuan “kebahagiaan”. Ilmu memberikan penerangan, memberikan tuntunan, memberikan tanda dan simbol bagaimana cara menjalani hidup dengan baik.

Setiap tindakan yang tidak didasari oleh ilmu, maka ia akan berada dalam kerugian dan sia-sia. Untuk itu, sebagai bentuk ikhtiar dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, maka perlu saling mengingatkan, saling memberi informasi dan bermitra dalam proses belajar-mengajar baik yang formal maupun non formal.

Era digital saat ini, banyak menyediakan fasilitas dan media dalam menyampaikan ilmu pengetahuan. Kita perlu berterima kasih kepada peradaban modern dengan segala fasilitas teknologi yang tersedia untuk keberlangsungan hidup kita.

Dengan fasilitas-fasilitas ini, memberikan peluang kepada generasi milenial untuk mengambil ruang kosong menyampaikan ilmunya, menyampaikan gagasan-gagasan, dan ide-ide yang dikemas dengan lebih kreatif dan imajinatif.

Hal tersebut bisa diakses melalui media facebook, instagram, tik tok, snapchat, dan lain sebagainya. Kehidupan sosial masyarakat seringkali generasi milenial tidak diberikan kesempatan dan ruang untuk tampil di mimbar ataupun panggung untuk menyuarakan apa yang mereka tahu.

Ini merupakan bentuk diskriminasi kepada generasi milenial yang menimbulkan rasa tidak percaya diri dan merasa dikucilkan, sehingga berpotensi melahirkan kesenjangan sosial.

Tanggung jawab sosial manusia adalah menjaga kestabilan kehidupan sosial, maka perlu memperhatikan komponen-komponen pelaku sosial yang terlibat di dalamnya. Generasi milenial merupakan komponen pelaku sosial, ia perlu diperhatikan dan diberikan ruang untuk menunjukkan eksistensi atau jati dirinya.

Potensi yang mereka miliki diperoleh melalui digital, sehingga perlu diarahkan dengan baik dan perlu pengawasan yang lebih intensif. Terlepas dari kehebatan teknologi, ia juga memberikan dampak buruk yang jauh lebih besar dibandingkan masa orang tua kita dulu dengan tantangan zaman yang ia hadapi, Contohnya, anak-anak yang masih berumur belasan tahun bahkan di bawah dari itu, pada wilayah psikologi mereka dipaksa untuk lebih lama bermain dengan handphone dibandingkan bermain dengan teman sebayanya seperti permainan kelereng, wayang, petak umpet dan lain sebagainya.

Mereka telah terdoktrin bahwa permainan di dunia maya lebih nyata, dibandingkan bermain di dunia nyata. Dunia nyata sendiri dianggap dunia maya yang tidak bermakna apa-apa. Hal ini, jika luput dari pengawasan orang tua, maka pada dasarnya orang tua telah mengizinkan anaknya untuk hidup nyata di dunia maya.

Untuk mengatasi persoalan ini, maka perlakuan kita adalah perlakuan digital, bukan kekerasan. Mindset generasi milenial adalah mindset digital, dan ini tidak bisa dicegah. Hal ini jika ditarik kepada konteks pendidikan, maka kesimpulannya bahwa pendidikan untuk era digital ini lebih banyak mengonsumsi ilmu pengetahuan di dunia maya dibandingkan di dunia nyata.

Apakah mengonsumsi ilmu pengetahuan di dunia maya adalah kesalahan? Jawabannya tentu tidak. Ilmu pengetahuan tetaplah sesuatu yang baik dan suci, mencari ilmu hukumnya wajib, dan atas dasar hukum wajib itu, ilmu perlu diajarkan atau disampaikan.

Ini senada dengan sabda nabi bahwa “sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”. Maka prinsipnya, ilmu harus ada unsur publikasi atau unsur viralisasi.
Kerusakan yang dialami oleh generasi milenial dikarenakan kita cenderung mengabaikan pentingnya ilmu disampaikan melalui sosmed.

Kemampuan mengedit atau berkreasi di dunia maya merupakan potensi yang luar biasa yang dimiliki oleh generasi milenial. Hanya saja dengan kebebasan berekspresi di dunia maya terlalu liar, seringkali menjerumuskan mereka kepada hal-hal yang tidak baik yang memberikan dampak moral di dunia nyata.

Menunjukkan eksistensi ke-aku-an sangat penting bagi generasi milenial. Maka, rangkul mereka, ajak mereka berkreasi, berdakwah, mengedit hal-hal yang baik. Praktisi pendidikan dan masyarakat sebelum memperbaiki generasi milenial, terlebih dahulu harus melakukan dua hal, yaitu; pertama, punya kualitas SDM yang baik di bidang teknologi. Kedua, mengambil peran serta tanggung jawab dari orang tua yang sudah terlanjur buta terhadap teknologi dengan mengelompokkan anak-anak mereka dalam wadah organisasi ataupun komunitas yang berbasis teknologi, lalu melakukan pendampingan dan pengawasan dalam penggunaan sosmed secara proporsional.

Comment