[Cerpen] Senja Terakhir

Ainun12

Oleh : Ainun Nhiza, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bulukumba

Sulengka.net — Perkenalkan namaku Arlianti Puja, biasa dipanggil Puja, saya berumur 20 tahun, anak pertama dari tiga bersaudara, ayahku bernama Anton dan ibuku bernama Ema. Saya tinggal di Kabupaten Bantaeng, Sekarang saya kuliah disalah satu Universitas di Sulawesi Selatan, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, saya menyukai sajak, puisi, syair makanya saya mengambil jurusan Bahasa Indonesia, karena menurutku mempelajari bahasa akan membentuk cara kita berfikir dan menentukan hal apa yang akan kita pikirkan, dan pastinya segala sesuatu perlu kita bahasakan terutama persoalan perasaan. Saya juga menyukai kopi, hujan, dan senja, yahh ketiganya sangat sering disandingkan kala kita sedang butuh inspirasi , saya tidak sekedar suka tetapi sudah jatuh cinta, bukan sekedar rasa dan suasananya namun makna dan filosofi antara ketiganya, hal ini hanya sebagian orang yang mungkin bisa menyadarinya.Saya tipe orang yang melankolis, atau anak mudah sekarang katakana baperan, bukan karena apa, hanya saja saya mudah tersentuh apa saja yang dikatakan orang, saya juga termasuk perempuan yang berbeda dengan perempuan yang lainnya, kebanyakan perempuan biasanya menyukai sesuatu hal yang identik dengan sifat feminim seorang perempuan seperti memakai rok, menyukai boneka dan menggemari film korea, saya sangat tidak seperti itu, saya menyukai pribadi orang-orang bebas, tidak terikat dengan aturan, dan peka terhadap keadaan sosial, salah satu idolaku ialah Soe Hok Gie, sang pemuda inspirasi dan panutan orang-orang merdeka, salah satu kutipan favoritku ialah “ Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus tetapi aku memilih untuk menjadi manusia merdeka”. Seringkali saya ingin menjadi penganut paham feminisme tapi masih saja ku menangis ketika make up ku habis, dan tentunya saya membutuhkan perhatian dari seseorang kekasih.

Sedikit berbicara tentang kekasih, dulu Saya memiliki pacar, namanya Marga Awin Putra, tapi aku biasa memanggilnya Awing, kita menjalin hubungan sejak kelas 1 SMA namun kandas setahun lalu, dia baik,sederhana, sedikit nakal namun sholeh, selain pribadinya yang membuatku jatuh hati, gigi gingsulnya yang membuat senyumnya semakin ranum,dan bola matanya yang sayu sendu bagai sinar bulan yang sedikit tertutup awan malam. Bercerita sedikit tentang kenapa saya dan Awing sudah tidak bersama lagi. Setelah menjalani hubungan selama kurang lebih 3 tahun, ada banyak hal bahagia dan sedih yang dilalui bersama, saat-saat bahagia, saat-saat mengecewakan yang tetap ku anggap hal yang indah karena ku lalui bersama Awing, itu sangat berbekas dalam ingatan. Awing sangat suka membuatku senang, hampir setiap harinya dia selalu membuatku tertawa karena tingkah lakunya, dia sering membuatku terkesan dengan apa yang dia lakukan, terutama kesederhanaannya, pada saat itu saya merasa menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia ini karena Awing bersamaku. Hal yang tidak bisa ku lupakan saat kita berdua menaiki vespa miliknya, setiap harinya Awing akan membawaku keliling kota menaiki vespanya.

Pada saat itu, hari Jumat selepas pulang sekolah, cuaca pada saat itu mendung ingin hujan, dia menghampiriku berlari dari kelas menujuku yang berada di gerbang sekolah, sembari tersenyum lebar dengan gigi gingsul yang sangat jelas.
“ jangan pulang sekarang puja, tunggu saya dulu, saya ingin membawamu kesuatu tempat”
“kemana awing” kataku padanya
“sabarlah, kau akan bahagia ketika sampai di sana” cetusnya sambil tersenyum kemudian mengelus kepalaku.
Awing kemudian bergegas mengambil vespanya, lalu dia menjempuku di gerbang sekolah, pada saat itu, perempuan yang menyukai Awing namun membenciku, dia melihatku, kulemparkan senyum padanya, kemudian kupeluk erat awing, yang mengisyaratkan bahwa “ awing milikku”. Setelah itu Awing membawaku kepedesaan, mataku tidak ingin berkedip karena menyaksikan pemandangan asri Pedesaan, kala itu hujan turun dengan sedikit deras, tidak ada tempat perhentiaan saat itu, jadi kami tetap melanjutkan perjalanan, Awing kemudian mengambil tanganku lalu menyuruhku memeluknya!

#

“peluklah puja, aku takut kedingingan dan takut kau jatuh” pinta Awing

“ tanpa kau pinta, aku akan tetap melakukanya” dengan tertawa malu, lalu kupeluk awing dengan erat

“kuharap puja, saat-saat seperti ini, akan selalu terjadi sampai kita tua nanti, jadi tolong tetaplah bersamaku Pujaku”

“apakah kau tidak takut sakit, ketika diwaktu tua kita masih bermain dibawah hujan” kataku

“kenapa aku harus takut sakit puja, aku selalu bahagia jika itu tentangmu, bukankah bahagia lebih penting dari segalanya”. sembari menggenggan tanganku.

“tapi aku tidak terlalu suka berdua dibawah hujan Awing”
“memangnya kenapa, bukankah hal seperti ini yang membuat kita lebih dekat puja”

“ bukan seperti itu, tapi aku tidak bisa melihatmu dengan jelas, melihat senyum favoriteku karena tertutup hujan awing, bawa aku pada suasana yang bisa membuatku lebih dekat dan jelas ketika bersamamu, pada saat senja”

Setelah itu, Awing selalu membawaku untuk menikmati senja, entah itu di pantai, di gunung, saat-saat indah yang kita lalui bersama, pada setiap kali aku menikmati senja, pundaknyalah yang menjadi salah satu tempat ternyaman, senja yang makin larut makin Nampak warna meronanya yang indahnya bersaing dengan senyum merona milik Awing, pada saat itu, pada saat senja, doaku selalu melangitkan harapan agar kutetap menikmati saat-saat seperti ini bersamanya hingga waktu tua, sembari bersandar dipundak lesuhnya

Setelah pelulusan SMA, kami memutuskan menjalani LDRan karena Awing ingin melanjutkan pendidikan di luar kota, perasaan tak rela memang kurasakan sebab barukali ini saya dan awing berjauhan dengan waktu yang lama, dan pastinya akan ada hari-hari penuh rindu yang akan saya lalui. Setelah setahun lebih kita menjalani LDRan ada saja dinamika yang terjadi , tapi saya dan awing mampu untuk melaluinya, sampai pada saat awing tak ada kabar, pada saat itu tepat hari jadian kami yang ke 3 tahun, Awing tak memberikan kabar apalagi ucapan romantis, beribu Tanya yang timbul dalam benak, tapi logika selalu menetralkan dengan berpikiran Awing pasti sedang sibuk dengan kuliahnya, berminggu-minggu lamanya Awing tak memberikan kabar, sayapun Cuma bisa pasrah dengan keadaan, mungkin Awing sudah tidak membutuhkan saya lagi

Pada suatu hari, pesan Awing pukul 12.00 WITA.
“Puja boleh bertemu sore ini, ditempat biasa” “baiklah” jawabku singkat padanya karena perasaan kecewa padanya
Tiba ditempat biasa, disore hari tepatnya waktu senja, Awing menungguku sesekali melemparkan senyum padaku, tetapi kali ini senyumnya berbeda, seperti senyum yang menyembunyikan sesuatu, kuhampiri dia dengan perasaan yang tak menentu, antara bahagia karena bertemu dengannya dan perasaan kecewa karena dia tak pernah ada kabar “apakabar Puja, kau makin cantik saja” katanya sambil berbicara lirih padaku.

“bicaralah apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan” kataku dengan sinis padanya.

“maafkan aku Puja beberapa hari aku tak memberimu kabar,apalagi memberi sesuatu di hari jadian kita”

“kau lupa ataukah memang aku tak lagi menjadi prioritasmu selama ini Awing” tanyaku

“maafkan aku puja aku salah, saat ini saya ingin membicarakan tentang hubungan kita Puja, aku ingin hubungan kita sudah sampai disini saja, karena ada hal lain yang ingin ku prioritaskan, aku takut meyakitimu, beribu maaf untukmu Puja” sembari menatapku

Setelah awing mengutarakan itu, hatiku hancur tuhan, sesak yang termatan dalam bersarang didalam dada, serasa ingin kuhempaskan keluar, tapi kucoba menahan dengan menghembuskan nafas, sembari berkata “aku mengerti itu Awing, aku memafkanmu “ sambil kulempar pandangan pada senja

“kenapa jawabmu singkat, seakan tak ingin kau perjelas mengapa aku ingin menyudahi hubungan ini Puja”

“buat apa, inginmu memang ingin pergi kan, percuma saja tetap meyakinkanmu untuk tetap bertahan, tidak etis rasanya memaksakan kehendak pada seseorang yang di hatinya tidak ada lagi kau di dalamnya”
“Puja asal kau tahu, kau punya ditempat dihatiku, tapi maafkan aku kau sudah selesai dalam kisahku” katanya dengan lirih sambil menggenggam tanganku.

“ aku bahagia mendengarnya, asal kau tahu aku tidak marah ataupun menyesali hubungan kita Awing karena kita pernah bersorai bersama, menjadikan aku dan kau sebagai sesuatu yang disebut bahagia, menghabisakan waktu bersama dengan penuh asa, aku mencintaimu Awing, sampai nanti jauh, jauh dikemudian hari”

Awing kemudian menggenggam tanganku, dan kubalasnya dengan senderan kepalaku di pundaknya, sembari bersua dengannya dan memandangi senja dengan warna sendunya kala itu.

“hari ini senja tak terlalu memerona puja, tak seperti senja yang dulu saat kita menikmatinya” cetus Awing

“senja mengerti perasaan kita awing, dulu senja memerona karena kita melihatnya dengan bahagia, sekarang senja sendu karena kita melihatnya sambil mengikrarkan perpisahan, kau tahu yang terbaik dari senja, ia selalu menepati janjinya untuk datang tepat di waktu petang, apapun warna senja yang dia munculkan, langit dengan agungnya menerima senja apa adanya “ jawabku dengan lirih sembari mengelak nafas dengan pelan.

“ apakah ini senja terakhir yang akan kita nikmati bersama Puja” Tanya awing padaku.

“yah senja terakhir yang kita nikmati sebagai sepasang kekasih “ cetusku padanya.

Selepas itu, kita tetap menikmati senja sampai malam datang , kemudian Awing mengantarku pulang menaiki vespa kesayanganya.

Memang benar senja waktu itu merupakan senja terakhir yang kita nikmati bersama, sekarang kita menjalin hubungan persahabatan, kerelaan hatilah yang membuat kita masih tetap menjalin hubungan sebagai sahabat sekarang dia sibuk kuliah sebagai mahasiswa hukum, harapku padanya semoga kelak dia menjadi seorang advokad yang berdiri di atas nama rakyat. Itulah sedikit cerita mengenai kenangan yang indah bersama Awingku, hal yang kupetik dari ceritaku bersama Awing adalah Pendewasaan dan hati yang lapanglah yang membawa kita pada bahagia yang semestinya. Jadikan masa lalu sebagai guru yang terbaik, untuk menjadi murid yang paling bijaksana di hari ini dan masa depan.

Comment