Cegah Hoax dengan Kurikulum 2013

Oleh: Andi Muhammad Asbar
Dosen STAI Al-Gazali Bulukumba

Manusia juga memperlukan instrumen guna mengasah kemampuan untuk menangkap berbagai informasi dari berbagai pusat informasi di jagat raya ini. Instrumen itu kemudian hadir sebagai ikhtiar manusia sendiri yang hari ini di kenal sebagai sekolah, madrasah dan pesantren.

Sejak tahun 2013 lalu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan merevisi kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dengan Kurikulum 2013. Kala itu ketegangan (tension) terjadi dari berbagai pihak, utamanya guru yang merupakan pion dalam implementasi kurikulum 2013. Tidak sedikit juga yang melakukan negosiasi antara menerima atau tidak menerima dengan alasan sekolah belum siap untuk menggunakannya.

Namun, dengan kekuasaan yang dimiliki akhirnya beberapa sekolah kemudian menerima sebagai piloting project dari kurikum tersebut. Dengan harapan, perlahan demi perlahan sekolah dapat menerima dan siap untuk menjalankannya.

Apa yang menarik dari kurikulum 2013? Pertanyaan ini penting dijawab. Kurikulum 2013 berperan untuk siswa dituntut untuk berpikir lebih kreatif, inovatif, cepat dan tanggap dan selain itu dalam kurikulum 2013 siswa dilatih untuk menumbuhkan keberanian dalam dirinya. Siswa akan dilatih kemampuan berlogika dalam memecahkan suatu permasalahan.

Serta mengembangkan keseimbangan antara sikap spiritual dan sosial, pengetahuan, dan keterampilan, serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.
Jika melihat unsur tujuan Kurikulum 2013, maka blue print-nya adalah kemampuan berlogika dan memecahkan masalah. Kemampuan berpikir ilmiah juga sangat ditekankan, sebab kurikulum menggunakan paradigma belajar kontruktivisme dengan corak pendekatan saintifik. Kelak menjadi karakter siswa yang terbawa ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Dalam hemat penulis, pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang menjadi khas kurikulum 2013 memiliki potensi besar untuk mencegah hoax di kalangan siswa. Sintaks pembelajaran yang dimulai dengan kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan kemudian diakhiri dengan kegiatan mengkomunikasikan merupakan upaya proses pencarian kebenaran otentik dengan menggunakan prosedur ilmiah.

Misalnya, dalam kegiatan mengamati siswa mendengarkan informasi soal cerita Raja Alexander yang Agung ingin membangun Alexandria (Iskandariyah) tetapi dihalang-halangi oleh monster laut di pesisir selatan Mesir. Informasi ini kemudian mengundang pertanyaan dari siswa. Boleh jadi ada yang bertanya atau menanggapi bahwa tidak benar kalau ada monter laut, atau mustahil sehingga mengundang keraguan atas informasi yang diperoleh.

Kegiatan selanjutnya adalah peserta didik mengumpulkan informasi tentang kebenaran cerita tersebut dari berbagai sumber. Setelah menelusuri informasi itu di internet siswa ada yang menemukan informasi bahwa cerita tersebut di buat oleh Al Masudi di buku Muruj adh-dhahab tentang sejarah Arab. Alexander dalam cerita itu kemudian membangun patung besi yang sama persis dengan makhluk laut yang sebelumnya ia gambar, dan diletakkannya patung tadi di mana bangunan Alexandria tengah dibangun.

Kala monster laut itu muncul, monster tersebut kemudian ketakutan melihat patung raksasa berbentuk monster dan akhirnya kabur. Akhirnya Alexander berhasil membangun Alexandria.
Di sisi lain, ada siswa yang menemukan informasi lain bahwa cerita itu di kritik oleh Ibnu Khaldun bahwa informasi itu tidak benar dan tidak boleh dipercaya begitu saja. Langkah kemudian siswa mengolah informasi yang ditemukan berkaitan dengan cerita tadi terkait kebenarannya apakah harus dipercayai atau tidak?.

Kegiatan akhirnya adalah mengkomunikasikan semua informasi yang ditemukan terhadap siswa yang lain secara objektif bukan subjektif.
Cara-cara tersebut di atas jika dihayati dengan baik, maka informasi yang datang dari berbagai sumber data dapat di filter atau disaring dengan baik. Akhirnya yang akan di share adalah informasi yang benar-benar bermanfaat dan memiliki daya tambah sebagai informasi baru. Bukan informasi hoax atau berita bohong kemudian dipercayai secara turun temurung kelak nanti. Informasi yang baik, paling tidak harus berimbang, karena berimbang itu adil seputar informasi. Spirit Kurikulum 2013, dapat dimanfaatkan untuk menangkal hoax.

Pengetahuan ini, sebaiknya dapat ditransmisikan tidak hanya ke dalam lingkungan sekolah saja, tetapi juga sangat penting pada lingkungan masyarakat dan keluarga yang juga merupakan lingkungan pendidikan yang sejak dahulu dipopulerkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Tri Pusat Pendidikan. (*)

Comment