Cara Berbicara pada Orang yang Sering Marah

Gaya Hidup11

Sulengka.net — Kemarahan terkadang bisa membuat hubungan Anda dengan seseorang menjadi retak. Orang yang marah mengatasi konflik dengan menuduh, menyerang, menghina, atau mengkritik. Jika tidak dicegah, mereka bisa berbahaya dan tak terkendali.

Mereka menggunakan kemarahan untuk mengatasi perasaan tidak mampu, sakit hati, atau diancam. Marah merupakan salah satu emosi tersulit untuk dikendalikan dari nilai evolusioner dalam membela diri terhadap bahaya.

Ketika Anda dihadapkan dengan kemarahan, tubuh Anda secara naluriah mengencang, kebalikan dari keadaan menyerah. Ini masuk ke mode pertarungan atau penerbangan. Jantung Anda berdetak lebih cepat, rahang dan otot Anda mengepal, pembuluh darah menyempit, otak dan semua keterampilan komunikasi keluar. Dalam kondisi yang dibebankan ini, Anda ingin melarikan diri atau menyerang.

Ingta, jangan merespons dengan amarah. Jika Anda tidak dapat melarikan diri, cobalah untuk tetap fokus, tidak segera bereaksi, dan tidak termakan kemarahan.

Kemudian, ketika Anda bisa mengatasi kemarahan dengan sepenuhnya, akui reaksi asli Anda pada diri sendiri atau orang yang mendukung. Ini mencegah kemarahan agar tidak meluap. Anda tidak dapat melawan amarahnya sampai Anda mengakui emosi yang sebenarnya.

Ketika Anda berhadapan dengan amarah, dilansir dari Yourtango, Rabu (18/12/2019), beginilah caranya berbicara dengan orang yang sedang marah, diadaptasi dari buku The Ecstasy of Surrender, dapat menenangkan Anda, dan membuat pikiran Anda jernih.

1. Hentikan reaktivitas Anda
Istirahatlah sejenak untuk menenangkan tubuh Anda. Hitung sampai sepuluh. Jangan terpancing oleh kemarahan walaupun kamu ditekan. Bereaksi hanya membuat Anda lemah.

Meskipun Anda mungkin tergoda untuk menyerang, cobalah untuk tidak menyerah pada dorongan hati. Fokuslah pada napas Anda, bukan pada orang yang sedang marah. Anda mungkin masih merasa kesal, tetapi Anda akan tenang dan bertanggung jawab pada saat yang sama.

2. Berlatih menahan lidah, telepon, dan email
Jangan membalas atau merespons sama sekali sampai Anda berada di tempat yang aman. Kalau tidak, Anda mungkin akan mengomunikasikan sesuatu yang Anda sesali atau tidak pernah bisa menariknya kembali.

3. Lepaskan
Perlawanan terhadap rasa sakit atau emosi yang kuat mengintensifkan mereka. Dalam bela diri, Anda pertama mengambil napas untuk menemukan keseimbangan. Kemudian, Anda dapat mengubah energi lawan. Cobalah untuk sebisa mungkin bersikap netral dan rileks terhadap kemarahan seseorang, bukannya malah menolaknya. Pada tahap ini, jangan berdebat atau membela diri. Sebaliknya, cobalah untuk membiarkan kemarahan mereka mengalir.

4. Mengakui posisi mereka
Untuk belajar cara berbicara dengan orang yang marah dan melucutinya, kamu harus melemahkan pertahanan diri mereka. Jika tidak, mereka akan goyah dan tidak mau mengalah. Pertahanan menghambat aliran. Oleh karena itu, penting untuk mengakui posisi pecandu kemarahan, bahkan jika itu membuat Anda tersinggung.

5. Tetapkan batas
Jika orang terus membuang amarah yang beracun, Anda harus membatasi kontak, mendefinisikan konsekuensi yang jelas seperti “Saya tidak dapat melihat Anda jika terus mengkritik saya,” atau membiarkan hubungan itu pergi. Anda juga bisa menggunakan “mendengarkan secara selektif” dan tidak mendengarkan semua perincian. Fokus pada sesuatu yang menggembirakan sebagai gantinya.

6. Berempati
Tanyakan kepada diri sendiri, “Rasa sakit atau ketidakmampuan apa yang membuat orang ini sangat marah?”. Kemudian luangkan beberapa saat hening untuk berintuisi orang itu sakit atau tertutup. Ini bukan alasan berperilaku buruk, tetapi itu akan memungkinkan Anda untuk menemukan rasa empati untuk penderitaan yang dialaminya, bahkan jika Anda memilih untuk tidak berada di dekat orang tersebut.

Sumber: Okezone.com

Comment