Bupati Bulukumba Marah, Ada Santri Tak Hormati Bendera

Sulengka.net — Momentum Peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Pemuda Kabupaten Bulukumba diwarnai insiden beberapa santri tidak menghormati Bendera Merah Putih. Insiden tersebut membuat Bupati Bulukumba, AM. Sukri Sappewali geram.

Sebelum membaca sambutan, Sukri terlebih dulu menegur santri dan mencari kepala madrasah yang dianggap bertanggungjawab atas atas perilaku santri yang tidak hormat pada Bendera Merah Putih.

“Bendera merah putih adalah bendera kebangsaan dan bendera persatuan nasional kita, bukan sekadar menghormati tapi juga menghargai sebagai lambang pemersatu bangsa. Saya paling marah kalau ada anak-anak generasi penerus bangsa tidak menghargai itu. Saya mohon perhatian untuk guru-guru untuk kita menghargai bersama bendera merah putih,” kata dia dengan penuh kekesalan. Selasa, 22 Oktober 2019.

Menurut Sukri, anak-anak yang hadir pada Peringatan Hari Santri adalah santri NKRI. “Berarti wajib hukumnya menghormati simbol-simbol kenegaraan yang ada di Republik ini. Ketika ada guru yang mengajari demikian (dilarang menghormati bendera merah putih, red) saya akan cari dan periksa termasuk muridnya,” kata dia.

Lebih jauh Sukri menegaskan pada semua khalayak yang menghadiri Upacara Peringatan Hari Santri Nasional, jika santri tidak mampu berdiri dan tidak mau menghargai merah putih, silahkan bubar dan tinggalkan Indonesia. “Silahkan pindah ke Arab Saudi atau dimana saja. NKRI harga mati, merah putih harga mati, disamping menghormati ukhuwah islamiyah dan hukum-hukum islam yang berlaku, namun perlu diingat kita semua berada dibawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Sukri.

Sukri menjelaskan, Islam mengajarkan untuk menghormati, bukan berarti ada paham yang mengajarkan bahwa menghormati bendera itu haram. “Tapi lebih bagamana kita menghargai sebagai simbol pemersatu bangsa. Selaku warga Negara Indonesia dan undang undang yang melindungi bendera itu, wajiib hukumnya di hormati. Yang tidak menghormati melanggar hukum. Saya ingatkan, saya mencintai kalian semua, mencintai masyarakat Bulukumba ini, agar mereka kelak menjadi anak-anak yang berguna. Masalah bendera, ini masalah hukum. Yang tidak mengormati bendera kita tindak tegas sebagai pelanggaran, dan guru guru yang mengajarkan itu kita akan tindak tegas,” tegas Bupati yang juga Purnawirawan TNI itu.

Setelah itu Sukri melanjutkan sambutan Menteri Agama yang ditandatangani Sekretaris Jenderal Kemenag M. Nur Kholis Setiawan. Dalam sambutan tersebut isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian.

Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural.

Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusimerawat perdamaian dunia. Setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian.

Pertama; Kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI misalnya, tidak lepas dari peran kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Kedua; Metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bathsul masail untuk mencari kekuatan  hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandarpada sumber hukum yang otentik.

Ketiga; Para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial.

Keempat; Pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh dari keluarga,
santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesama para pejuang ilmu.

Kelima; Gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra sangat berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab dapat mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.

Keenam adalah Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.

Ketujuh, Merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.

Kedelapan; Prinsip Maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat.Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual.

Kesembilan; Penanaman spiritual. Tidak hanya soal hukum Islam (fikih) yang didalami, banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatunnafs, yaitu proses pembersihan hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan puasa, sehingga akan melahirkan fikiran dan tindakan yang bersih dan benar. Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme.

Comment