Bupati Bulukumba Harap Regenerasi Petani Melalui Program YESS

Sulengka.net — Kementerian Pertanian saat ini melaksanakan Program Pengembangan Kewirausahaan dan Ketenagakerjaan Muda di sektor pertanian melalui program Youth Entrepreneurship And Employment Support Service (YESS).

Kabupaten Bulukumba adalah salah satu dari 15 Kabupaten yang terpilih oleh Kementerian Pertanian menjadi lokasi pilot project Program YESS di Indonesia bersama 3 kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan yaitu Bantaeng, Bone dan Maros, yang pelaksanaan programnya sampai tahun 2025.

Program YESS merupakan proyek percontohan pengembangan generasi muda dan re-generasi petani melalui penyediaan fasilitas dan bimbingan kepada generasi muda, khususnya di kaum millenial.

Tercatat hingga akhir tahun 2020 telah terverifikasi Calon Penerima Manfaat (CPM) di Kabupaten Bulukumba sebanyak 1510 orang dengan persyaratan usia 17 sampai dengan 39 tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1200 CPM telah mendapatkan pelatihan yang terdiri dari pelatihan proposal bisnis, workshop motivasi bisnis, start-up dan literasi keuangan.

Ada empat kegiatan pokok dari Program YESS, yaitu pendataan CPM, pelatihan, pemagangan dan pemberian hibah kompetitif. Pemberian hibah kompetitif ini sebagai bantuan modal usaha bagi CPM dengan syarat harus mengikuti pelatihan Program YESS dan mengajukan proposal.

Bupati Bulukumba, Muchtar Ali Yusuf mensupport program ini, dikarenakan sangat relevan dengan Visi Pemerintah Daerah yaitu “Mewujudkan Masyarakat Produktif, Yang Berkarakter Kearifan Lokal Menuju Bulukumba Maju dan Sejahtera”

Masyarakat produktif, kata Bupati hanya bisa terwujud jika generasi usia produktif mampu melakukan inovasi dan kreatifitas dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, termasuk sumber daya di bidang pertanian.

“Kita menaruh harapan besar bagi seluruh generasi muda yang terlibat dalam program YESS ini, dapat bersinergi dan berkolaborasi dalam mendorong terciptanya lapangan kerja baru dan peningkatan SDM petani muda Bulukumba,” kata Muchtar Ali Yusuf saat menghadiri Forum Pemangku Kepentingan Program YESS di Aula Bappeda, Senin 18 Oktober 2021.

Selama ini sektor pertanian di Indonesia termasuk Bulukumba, lanjutnya, hanya dipandang sebelah mata disebabkan karena petaninya tidak professional. Berbeda dengan petani di berbagai Negara Eropa dan beberapa negara di Asia, yang jumlah kekayaan dan tingkat kesejahteraannya lebih tinggi. Kuncinya, petani di sana memaksimalkan potensi lahannya dengan bibit unggul dan teknologi pertanian yang canggih.

Melalui program YESS ini, Andi Utta sapaan akrabnya berharap betul-betul dapat mengkondisikan generasi muda menjadi petani profesional sekaligus melakukan regenerasi petani di Bulukumba.

“Jika petani muda kita berhasil, maka anak muda lainnya tidak lagi tertarik untuk menjadi pegawai honorer,” pungkasnya.

Dikatakan, pembangunan pertanian Bulukumba memang memiliki tantangan yang cukup besar. Kualitas dan produktifitas hasil pertanian Bulukumba masih kalah bersaing dengan daerah lain. “Bagaimana hasil perkebunan kita bisa bersaing, kalau yang ditawarkan Mangga kacci sama langsat kacci,” kata Andi Utta memberi contoh.

Makanya, pihak pemerintah daerah mendorong adanya program bibit unggul gratis untuk berbagai jenis komoditas. Program bibit unggul ini akan dilaksanakan secara menyeluruh di seluruh desa kelurahan, sehingga tidak ada lahan yang menganggur. Hasilnya 3 sampai 5 tahun ke depan, Bulukumba akan menjadi sentra hasil perkebunan yang berkualitas.

Sementara itu, Direktur I Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, Kartini Eka Sari yang hadir di forum tersebut mengungkapkan tujuan dari program YESS ini untuk regenerasi petani. Dari jumlah petani di Indonesia saat ini, hanya 8 persen petani muda, sehingga Kementerian Pertanian melalui Program YESS mendorong lahirnya petani-petani baru dengan kapasitas dan kualitas yang lebih baik dari petani saat ini. Target Kementerian Pertanian pada program ini adalah mencetak 320 ribu petani muda pedesaan di Indonesia.

Dikatakan Bulukumba akan menjadi menjadi pilot projek Program YESS pada tingkat internasional. Indikatornya karena Bulukumba telah memenuhi target dalam jumlah CPM-nya. “Kita patut berbangga bahwa Bulukumba tidak hanya menjadi percontohan di Indonesia saja, tapi Bulukumba menjadi percontohan kepada negara lain dalam hal mencetak petani muda,” Kartini menambahkan.

Atas capaian itu, pihak Polbangtan pada kesempatan tersebut memberikan penghargaan kepada Bupati Bulukumba atas dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan program YESS di Kabupaten Bulukumba.

*Hibah Kompetitif Bantu Petani Muda Bulukumba*

Yang menarik dari program YESS ini adalahnya adanya bantuan Hibah Kompetitif, bukan skema pinjaman seperti Kredit Usaha Rakyat yang ada di Bank.

Hibah kompetitif dimaksudkan sebagai salah salah bentuk penguatan modal dalam berwirausaha pada sektor pertanian.

Hibah Kompetitif ini diperuntukan kepada para CPM yang telah memenuhi persyaratan sesuai dengan petunjuk teknis yang ada, diantaranya : salinan KTP / KK, Surat Keterangan Domisili Usaha, Surat pernyataan tidak berstatus PNS/TNI/Polri/ Pegawai perusahaan, Proposal Usaha dan terpenting telah mengikuti pelatihan dari program YESS

Hibah kompetitif telah berjalan selama 2 tahapan, dimana petani muda Bulukumba telah mendapatkan total hibah sebesar Rp591.367.713. Tahap I sebesar Rp253.979.500 dengan jumlah penerima 11 CPM, Tahap II sebesar Rp337.388.213 dengan jumlah penerima 17 CPM.

Berbagai jenis usaha telah didanai dari hibah kompetitif ini, diantaranya budidaya peternakan sapi, penangkar benih hortikultura, budidaya sistem Aquaponik, Pengembangan usaha ternak kambing, Usaha ternak ayam dan bebek kampung, Produksi pupuk kompos, Produksi dan penjualan Abon Telur, dan pembuatan gula aren cair.

Cara mendapatkan hibah kompetitif, setelah mendapat pelatihan para CPM diarahkan membuat proposal bisnis yang didampingi lembaga pendamping program, Insan Cita Institute.

Selanjutnya peserta yang lulus seleksi hibah kompetitif akan didampingi oleh mentor dalam proses pengembangan usahanya, mulai dari peningkatan kualitas dan kuantitas produk, pengemasan sampai akses pasar.

Comment