Berharap ‘Kemiskinan’ Undur Diri

burhan

Oleh : Burhan SJ, Mahasiswa

Sulengka.net — Kemiskinan adalah hak setiap orang, tapi harusnya menjadi tanggung-jawab negara dan semua orang. Demikian kiranya agar kita nampak lebih dekat dengan sebutan mahluk sosial yang humanis. Banyaknya data elektronik mengenai kemiskinan, yang mestinya telah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pun justru semakin menjadi-jadi.

Para aktivis, terutama mahasiswa selalu meneriakkan perlawanan atas penindasan terkhusus pada kemiskinan yang semua orang tahu sebabnya. Bukan semata karena nasib, juga kemalasan. Tetapi juga karena kondisi politik yang memang menampik kondisi sosial yang setara.

Walau kenyataan tetap tak berubah sesuai keinginan bersama. Hanya menjelma harapan yang lebih parah dan semakin menjadi-jadi. Sebagaimana derita bersama yang tak pernah kita inginkan. Berbagai argumentasi di sosial media dan di forum-forum resmi, seolah menyihir kita untuk pura-pura menutup mata dengan kenyataan yang kian hari semakin mengerikan. Hal itu seharusnya bisa dikelabui lewat gaya hidup. Dengan secangkir kopi di cafe, misalnya.

#

Sebab segala sesuatunya bermula dari kebiasaan kecil. Salah satu contohnya, dari kebiasaan curang, hingga berujung korupsi. Namun, menjadi hal wajar karena terbiasa dengan perilaku negatif. Terlebih ambisi kerakusan untuk tetap mengelabui sesama demi kepentingan pribadi serta golongan. Berdampak pada kemiskinan berkepanjangan.

Kekuasaan politik tidak betul-betul berubah hanya karena seringnya diskusi di cafe, mungkin kata ‘miskin’ hanya spasi bagi kalimat aktif, atau bisa jadi hanya jeda pada visual. Atau hanya sekedar momen istirahat sejenak bagi mereka yang senang melihat derita dan tangis dari air mata rakyat yang tak pernah kering.

Selain itu, saya jadi khawatir jangan sampai kata ‘miskin’ jenuh dan bosan lantaran selalu jadi kalimat pembuka, keseringan dipakai, akhirnya mengamuk, atau meminta untuk mengundurkan diri dari peribahasa Indonesia, saya takutnya begitu. Bila benar itu terjadi, maka peluang manusia untuk menipu akan berkurang, karena tak ada lagi kata yang bisa dijadikan sebagai jembatan permohonan untuk dipenuhi permintaannya dalam tipu-menipu.

Tetapi bila seseorang harus memilih; kemiskinan memang lebih baik bagi seseorang, ketimbang selalu merasa kaya. Namun, hatinya miskin dan rapuh. Walau diketahui bersama, kemiskinan adalah musuh bersama, bagi kita di negeri yang makmur nan sentosa ini.

Sejauh kita amati, berbagai slogan dan program pemerintah diluncurkan untuk menyelesaikan kemiskinkan, yang tentunya juga butuh mental baja dan psikologi yang kuat untuk menghadirkan kerendahan hati.

Disadari pula bahwa, tak ada kata yang tak bisa terucap oleh pemangku kebijakan. Kemampuan retorika membuat semuanya nampak lebih benar, dan terdengar lebih nikmat. Namun, selalu gagal sebagai fakta yang diinginkan. Terlepas dari itu. Bukan hanya perempuan ditinggal nikah yang akan merasa kesepian. Kopi juga pasti merasa sangat sepi akibat percakapan yang monoton. Oleh penggemarnya, kopi yang hanya ramai dicumbui pecandu, dijadikan perbincangan kenaikan saham dari siang dan malam. Tetapi tetap saja tak pernah menghadirkan konsep kesejahteraan sebagai realita.

Lingkungan tiba pada kesimpulan sederhana. Di mana fashion yang berupa kopi dijadikan alasan sebagai sumber percakapan yang progres, tapi tidak benar-benar terjadi. Kerugian akibat kekalahan pertarungan berbagai proyek, pembagian saham yang dinilai diskriminasi, cicilan rumah dan mobil. Kebutuhan konstruksi rumah pribadi, kekasih gelap, puisi yang tak sampai, dan banyak lainnya yang serba elit serta romantis. Telah memenuhi ruang-ruang di hampir semua cafe di kota-kota kecil di Indonesia.

Akibat pergeseran nilai dari pembahasan pemuda tentang sistem kekuasaan menindas, berubah menjadi keputusan politis yang mementingkan sedikit orang saja. Adalah tanda bahwa negeri ini bukan saja melawan kemiskinan, tetapi juga harus melawan percakapan elit yang bertujuan menciptakan kesenjangan.

Para petinggi yang setiap harinya di cafe, para politisi yang setiap pekan menghabiskan programnya pun di cafe. Hampir semua kegiatan menuju cafe dan selesai tanpa solusi yang memuaskan.

Anggota dewan kita yang sangat terhormat pun, notabenenya tak pernah menginjakkan kakinya di desa, kecuali sebelum ia terpilih. Mereka akrab berbicara kemiskinan di cafe. Entah apa maksudnya!

Sebab kemiskinan selalu menjadi buah bibir para petinggi negara. Sayangnya tidak menjadi buah harapan yang tumbuh dan dinikmati semua orang. Hanya pembicaraan program, dan nyaris tak pernah berbentuk tindakan konkret. Sama sekali tak pernah selesai sebagai kenyataan yang semestinya.

Berdasarkan laporan dari Bank Pembangunan Asia (ADB), penduduk nasional Indonesia pada tahun 2015 berjumlah 255,46 juta jiwa, 11,2% di antaranya hidup di bawah garis kemiskinan nasional. (Wikipedia).

Angka tersebut tak pernah berkurang, apalagi menghilang. Sebab tindakan eksploitasi di lingkungan paling dekat sekalipun senantiasa bekerja. Ekonomi (Capitalism) terus mengakumulasi dan menciptakan kesenjangan. Percakapan semacam itu yang hilang di cafe. Justru yang tumbuh adalah sebaliknya, bagaimana seseorang harus kaya? Perihal sukses adalah tentang uang.

Para pemangku kebijakan tak pernah memahami betul, akar persoalan mendasar dari para petani di desa, nelayan di pantai dan mereka yang mau makan saja sangat susah.

Mereka yang miskin dan menjalani hidup dengan sangat tidak jelas, juga adalah warga negara Indonesia yang semestinya mendapat perlakuan sama. Sama-sama bisa menghirup udara segar tanpa beban, dan bisa bermimpi tanpa harus terkurung dalam kondisi yang sebenarnya adalah tanggung-jawab negara selaku pemangku kewajiban.

Pendiskusian seperti ini yang mulai bergeser. Kaum muda, mahasiswa dan aktivis pun tinggal sedikit yang menjadikan cafe sebagai tempat pemecahan masalah sosial. Selebihnya, hanyalah sederet suara-suara sumbang pengejar saham.

Satu hal lagi, kemiskinan adalah musuh kita bersama. Itu yang harus ditanamkan dalam benak. Siapapun yang memanfaatkan kemiskinan untuk kepentingannya, merupakan LAWAN kita bersama.  Hidup rakyat miskin, bersama tulisan ini. Mari kita melawan kemapanan!

Comment