Apakah IQ Penentu Keberhasilan Anak Ketika Dewasa Nanti ?

darnawati

Oleh : Darnawati Tompo, Pegiat Literasi

Sulengka.net –Orang-orang bijak mengatakan putramu adalah bungamu sampai usia tujuh tahun, kemudian ia menjadi pembantumu selama tujuh tahun berikutnya. Jika usianya telah genap empat belas tahun, maka ia menjadi kawanmu, jika engkau mendidiknya dengan baik. Tetapi ia akan menjadi musuhmu, jika engkau mendidiknya dengan tidak baik.

Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah yang diberikan Allah SWT kepada setiap orangtua. Hadirnya anak membawa kebahagiaan tersendiri. Anak menjadi obat mujarab jika lelah fisik itu melanda. Anak juga menjadi suplemen  hati membawa keceriaan meskipun masalah datang silih berganti. Anak mampu membuat simpul-simpul senyum kepada yang melihatnya.

Hadirnya anak sebagai perekat hubungan pasangan suami istri dan membawa keharmonisan dalam berumah tangga. Meskipun demikian, anak akan menjadi bumerang  jika tidak dijaga dan dipelihara dengan baik. Tetapi jika berhasil menjaga dan memeliharanya dengan baik, maka para orangtua akan merasakan manisnya nikmat Allah SWT.

#

Anak diajadikan orangtua sebagai investasi dunai akhirat. Segala upaya terbaik dilakukan orangtua kepada anak sebagai rasa syukur hadirnya ditengah keluarga, itu karena pada anak disematkan harapan dan cita. Orangtua mengarahkan anaknya untuk belajar. Namun sering dijumpai anak malas belajar. Anak mempunyai 1001 macam alasan jika disuruh belajar di rumah.

Hal inilah yang menyebabkan para orangtua memberikan petuah panjang lebar menjelaskan pentingnya belajar. Tapi petuah tersebut masuk ditelinga kanan, keluar ditelinga kiri anak. Anak tetap tidak suka belajar. Anak lebih suka bermain. Hal ini berdampak anak tidak mendapatkan prestasi di sekolah . Jika orangtua tidak sabar , maka “memukul” adalah jalan terakhir memaksa anak belajar.

Banyak orangtua yang galau memikirkan keberhasilan anak ke depannya. Persepsi kebanyakan orangtua, “kalau kecilnya bodoh bagaimana besarnya?”. Atau  “Kalau mau dilihat besarnya lihatlah masa kecilnya”. Betulkah persepsi yang seperti ini?

Lewis Terman dari Stanford University merupakan  penganut paham eugenetik Francis Galton. Terman percaya kecerdasan tidak bisa diubah dengan cara apapun. Pada tahun 1920, Terman memulai sebuah studi besar-besaran yang memakan waktu puluhan tahun. Studi tersebut dinamakan “Studi Genetik Genius”. Terman menyeleksi sekelompok anak-anak dari negara bagian California yang dianggap genius dan mengikuti jalan hidup mereka sampai dewasa. 1500 anak terpilih, 5% dari mereka yang berarti 75 anak, memiliki IQ setinggi 180. 75 anak ini diprediksi terman akan meraih hadiah nobel. Tapi apakah prediksi Terman menjadi kenyataan?.

Ketika mulai beranjak dewasa keistimewaan anak-anak pilihan Terman tersebut mulai memudar. Mereka memang memperoleh hidup layak, gaji besar, dan kesehatan lebih baik dibanding rata-rata penduduk Amerika pada umumnya. Tetapi hanya sedikit sekali yang tumbuh genius. Dari ke 75 anak tersebut tidak ada yang mendapatkan nobel.

Pada tahun 1956, setelah Terman wafat hadiah nobel fisika dianugerahkan kepada William Shockley sebagai penemu transistor. Ternyata Willian Shockley adalah salah satu anak yang tidak termasuk kelompok anak pilihan terman. Luis Alvarez berhasil memenangkan hadiah nobel fisika, juga tidak termasuk ke dalam  kelompok anak pilihan Terman.

Studi tersebut membuktikan bahwa hubungan IQ anak dengan prestasi dan keberhasilan anak ketika dewasa sama sekali tidak berdasar. Jika anak masih kecil yang harus diperhatikan adalah aspek afektif (sikap) dan aspek psikomotorik (keterampilan). Aspek kognitif (pengetahuan) dapat dipoles ketika dewasa nantinya. Mengapa perlu diperhatikan sikap dan keterampilan anak?.

Anak bisa karena terbiasa. Anak sejak kecil harus dibiasakan dengan sikap yang baik karena sikap inilah yang akan dibawa sampai anak dewasa nantinya. Orang-orang terdahulu mengatakan “punna tanjaka akkule ripinra mingka sipaka tena akkulllei ri pinra”. Mungkin maksudnya seperti ini, sifat jika sudah mendarah daging sangat susah untuk diubah. Jika sifatnya bagus, tidak jadi masalah tetapi bagamana jika sifatnya tidak baik?. Olehnya itu sikap anak harus dipermantap sejak kecil.

Selain itu keterampilan anak harus diasah dengan baik. Orangtua harus mencari tahu keterampilan yang dimiliki anak.Tujuannya agar anak kedepannya lebih dapat menentukan bidang profesi yang akan dipilihnya. Biasanya  keterampilan seseorang  mempengaruhi bidang profesi yang akan digeluti, tapi ini sifatnya relatif.

Persoalan kognitif anak, dapat dipoles ketika dewasa. Setelah anak dewasa dan sudah muncul dorongan dari dalam dirinya untuk berbuat lebih baik, sudah ada tekad untuk mengetahui sesuatu, sudah ada keinginan untuk berjuang. Maka anak akan semangat untuk menuntut ilmu lebih baik lagi. Sering kita jumpai pada anak laki-laki ketika kecil biasa-biasa saja, bahkan tergolong anak yang diremehkan. Tapi setelah dewasa, anak yang diremehkan tersebut lebih unggul dibanding teman-temannya yang lain. Jangan bersedih ketika  anak belum menunjukkan prestasinya di sekolah. Tetap dampingi anak, berikan motivasi, beri teguran  jika salah, dan berikan arahan. Jangan bosan-bosan mendo’akan anak. Do’a, ikhtiar (ridha, sabar, ikhlas, tawakkal), dan berdo’a kembali adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam mendidik anak. Segala kuasa milik Allah SWT, termasuk dalam hal mencerdaskan anak.

Comment