Apa kata Prof. Dr. Baharudddin Lopa Soal Pancasila

Oleh : Muhammad Arif, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga

Oleh : Muhammad Arif, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Sulengka.net — Melihat isu di berbagai media sosial saat ini yang ramainya menggoreng persoalan pernyataan ketua Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP) Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D yang menyebut bahwa Agama adalah musuh pancasila menuai banyak polemik.

Ahmad Basarah dalam hal ini mengatakan bahwa pernyataan tersebut
bukan pada subtansinya. Gus Yaqut Chalil Qoumas menilai bahwa
pernyataan ketua BPIP kesannya membenturkan antara Agama dan
Pancasila. Sementara wakil Presiden K.H Ma’ruf Amin meminta agar Yudian Wahyudi melakukan klarifikasi atas penyataannya tersebut. Penyataan Yudian Wahyudi ini juga mendapat respon dari badan
pengamat politik The Habibie Center Bawono Kumuro, menurutnya untuk membuktikan bahwa esensi BPIP bukan lembaga atau badan yang dibentuk untuk menggebuk lawan politik pemerintah, Yudian Wahyudi seharusnya harus bisa menata setiap perkataannya yang dilontarkan. Ada banyak lagi tanggapan yang diberikan kepada ketua BPIP tersebut.

Hemat penulis meski perkataan Yudian Wahyudi kesannya negatif
tetapi pada persoalan ini penulis ingin melihat sisi positifnya. Sejatinya dengan pernyataan Yudian Wahyudi yang menuai banyak krititikan membuat masyarakat Indonesia pada umumnya kembali lagi membicarakan pancasila yang sampai saat ini pancasila diobrak-abrik oleh segelintir orang, dan pancasila hanya dijadikan sebagai modal hapalan saja, namun tidak dijadikan sebagai pijakan dalam bersosial, berpolitik bahkan beragama.

#

Namun penulis tidak ingin membawa para pembaca pada tulisan ini untuk berlarut-larut pada persoalan pernyataan Yudian Wahyudi dan beberapa tanggapan orang terhadapnya. Untuk itu, penulis menawarkan salah satu argumen Baharudddin Lopa soal pancasila. Ahmad Syafii Maarif dalam buku Membumikan Islam Dari Romantisme Masa Islam Menuju Islam Masa Depan: 187 mengemukakan bahwa pada tahun 1986 tepatnya pada bulan oktober, kantor berita antara menyiarkan komentar Baharudddin Lopa soal pancasila.

Menurut Baharudddin Lopa bahwa “seorang aparat harus berlaku adil dan jujur serta berpegang teguh pada ajaran Agama, karena kalau seorang telah melaksanakan Agama, dengan sendirinya dia sudah berpancasila. Pancasila sendiri terkandung dalam setiap ajaran Agama, setiap sila demi sila tertulis dalam ayat-ayat al-Qur’an. Tanpa Agama pancasila akan mati, dan karenanya, setiap pejabat harus berpegang teguh pada Agama dan selalu berdoa untuk mendapatkan rahmat dari Allah SWT”.

Apa yang dipaparkan Baharudddin Lopa diatas merupakan suara
nurani setiap orang yang beragama. Tidak peduli agamanya apa, entah dia seorang muslim atau bukan. Karena sejatinya disanalah terdapat inti persoalan asasi-filosofis bila kita berbicara persoalan pancasila dan Agama. Pada perinsipnya pancasila harus tidak malu-malu lagi mengundang intervensi wahyu untuk menyinari dirinya. Dibawah sinaran wahyu pancasila akan punya pondasi moral yang kokoh, moral transendental, bukan hanya moral politik yang terlalu mendunia dan cenderung mengarah keranah korup.

Melihat situasi dunia saat ini yang cenderung materialistis-ateistis, di
mana manusia sedang menatap masa depan dengan pandangan yang serba tidak pasti, maka rasanya waktu sudah amat mendesak bagi bangsa kita untuk memancing keterlibatan Tuhan dalam proses pembangunan yang telah berlansung. Jikalu pendekatan yang serba ekonomis-materialistis tanpa orientasi moral terhadap hal apapun utamanaya pembangunan akan menghasilkan masyarakat yang serba materialistis, dan tentunya terlepas dari esensi pancasila, sekalipun pancasila masih tetap secara formal sebagai dasar negara.

Keterlibatan Tuhan dalam urusan manusia hanyalah bisa didapatkan
apabila manusia mempunyai kepekaan nurani yang intens terhadap sikap adil, jujur dan penuh tanggung jawab, hal ini yang selalu di kemukakan oleh Baharudddin Lopa.

Pertanyaan kita yang mendesak ialah, bagaiman kita mewujudkan
sikap adil dan jujur dalam arti yang sebenarnya agar pancasila tidak hanya menjadi tatanan konsep saja?. K.H. Mahfudz Shiddiq pada tahun 1935 menginisiasi suatu konsep yang sangat menarik yang tentunya menurut penulis konsep tersebut mewujudkan sikap adil dan jujur dalam arti yang sebernya. Konsep yang dibanguan K.H. Mahfudz Shiddiq mengandung lima pilar yakni. Pertama,as-shidqu (pilar kejujuran dan kebenaran). Kedua, al-amanah wa al-wafa‘ bil ‘ahdi (pilar kesetiaan dan komitmen). Ketiga, al-‘adalah (pilar keadilan). Keempat, at-ta‘wun (pilar solidaritas). Kelima, al-Istiqamah (pilar konsistensi).

Kelima pilar diatas terus menerus dikampanyekan oleh K.H. Mahfudz
Shiddiq sebagai dasar pembentukan karakter bangsa sehingga bisa lebih dewasa dalam menyikapi segala hal persoalan.

Dalam perjalanan sejarah melahirkan Indonesia dan menetapkan
Pancasila sebagai dasar negara merupakan suatu modal penting. Sebab, adalah suatu transformasi budaya yang tidak mudah untuk memadu padankan sekaligus menyatukan adanya kepelbagian. Bahkan, jikalau melihat fakta-fakta historis, bangsa Indonesia telah memiliki modal sosial yang jauh sangat berharga. Suatu karakter kepribadian yang khas, karakter itu tercermin dari adanya kekayaan etnis, suku, ras, agama dan golongan yang begitu plural. Disamping itu, Indonesia juga merupakan negara yang mengikuti dinamika perkembangan modernitas sebagai tuntutan global. Dengan demikian, keunikan dari karakter kepribadian Indonesia yang khas ini dapat menggabungkan kelima pilar yang dibangun oleh K.H. Mahfudz Shiddiq dan tentunya dapat melahirkan sikap adil, jujur dan penuh tanggung jawab.

Konsep K.H. Mahfudz Shiddiq diatas di perkuat oleh K.H. Sahal
Mahfudh yang menurutnya bahwa setidaknya ada empat alasan mengapa kelima pilar masih tertatih-tatih dan belum dimiliki oleh masyarakat Indonesia sehingga implementasi sikap adil, jujur dan penuh tanggung jawab belum terpenuhi. Pertama, fanatisme buta dan rasa bangga diri yang berlebihan. Kedua, sempitnya wawasan. Ketiga, tingkat akhlak yang relatif masih rendah. Keempat, kesadaran dan rasa kasih sayang terhadap manusia.

Keempat hambatan tersebut tampaknya masih relevan sampai
sekarang. Banyak kalangan yang masih menolak dan menempatkan
pandangan diluar dirinya sendiri. Kesempitan pandangan tersebut tentu saja dipicu oleh sempitnya keilmuan dan kurang luasnya pemahaman seseorang, sebab orang yang mempunyai wawasan luas pasti meniru karakter laut.

Pada dasarnya, bahwa pancasila harus mampu berdialog dengan
sumber kehidupan dengan cara yang diajarkan oleh agama. Temponya sudah sangat mendesak bagi bangsa ini untuk memenuhi dirinya dalam soal moral, dalam soal etika. Keterlamabatan dalam pembenahan moral dan etika hanya akan memberi peluang kepada sekularisme dengan segala akibatnya yang fatal untuk mencoraki perjalanan jauh bangsa ini. Untuk sumber moral pancasila Ahmad Syafii Maarif dan Baharuddin Lopa menengaskan bahwa sumbernya ialah wahyu.

Comment